Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Cilegon, M Ridwan. (Foto Dokumentasi Selatsunda.com)

CILEGON, SSC – Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) sudah mulai melakukan normalisasi daerah aliran sungai (DAS) dan pemeliharaan drainase. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi banjir disaat musim penghujan.

Kepala Dinas PUTR Cilegon, M Ridwan mengatakan, normalisasi aliran sungai dan pemeliharaan drainase dilakukan di 16 titik di 8 kecamatan di Cilegon. Upaya pengendalian banjir secara jangka pendek ini sudah dimulai sejak pertengahan tahun ini.

“Kita sudah dari awal Juli 2021. Ada 16 titik kita lakukan kegiatan pemeliharaan dan peningkatan saluran drainase serta sungai.
Seluruhnya tersebar di 8 kecamatan,” ungkap Ridwan ditemui di Kantornya, Senin (20/9/2021).

Ia menyatakan, normalisasi dilakukan pada sungai-sungai yang mengalami sedimentasi tinggi. Agar ketika terjadi hujan, air di sungai tidak meluap ke pemukiman warga.

Baca juga  Tingkatkan Herd Immunity di Cilegon, NS Bluescope dan PMI Gelar Serbuan Vaksinasi

“Yang resiko banjir tinggi itu ada di beberapa wilayah, itu kita prioritaskan. Kita antisipasi di wilayah Merak, Cibeber, Ciwandan, Grogol juga ada,” terangnya.

Selain normalisasi, Dinas PUTR juga membuat perencanaan untuk mengendalikan banjir secara jangka panjang. Rencana itu lewat pembuatan tandon. Saat ini, rencana sudah mulai dilakukan untuk pekerjaan tandon lanjutan.

“Tandon itu kan untuk menampung air, kita tata secara teratur. Kita sudah membangun di Bulakan, Ciwandan,itu tahun 2020, akan ada lanjutannya. Untuk tandon yang di Sukmajaya, Jombang, pekerjaan lanjutannya juga kita selesaikan tahun ini. Untuk yang di Cibuntu di Ciwandan juga sudah saat awal, tapi belum disempurnakan,” ujar Ridwan seraya menjelaskan upaya penataan secara jangka panjang lainnya dilakukan dengan perbaikan saluran air di Jalan Lingkar Selatan (JLS).

Baca juga  Laka di Tanjakan Maut JLS Kembali Terjadi, Truk Pengangkut Air Mineral Terguling

Khusus wilayah Merak, kata Ridwan, memang perlu kajian khusus. Karena di beberapa kelurahan seperti Mekarsari dan Tamansari, minim aliran sungai. Kemudian juga dataran yang menjadi pemukiman warga berbentuk cekungan.

“Memang Merak harus ada kajian khusus. Kalau kita melihat pemukimannya, itu seperti lembah, berbentuk cekungan. Memang harus ada pembuangan langsung ke laut, sementara cuman ada kali Medaksa,” pungkasnya. (Ronald/Red)