Kepala BPTD Kelas II Banten, Benny Nurdin Yusuf. (Foto Ronald/Selatsunda.com)

CILEGON, SSC – Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Banten mengadakan rapat dengan berbagai stakeholder dalam mengevaluasi penyelenggaraan Angkutan Lebaran Tahun 2024, Senin (22/4/2024).

Kepala BPTD Kelas II Banten, Benny Nurdin Yusuf mengatakan dalam rapat tersebut terdapat sejumlah masukan yang menjadi catatan pihaknya dalam evaluasi Angkutan Lebaran 2024. Salah satu diantaranya menyangkut pengoperasian kapal dengan pola tiba bongkar berangkat (TBB) yang dilakukan saat angkutan Lebaran 2024.

Dari masukan yang disampaikan Gapasdap, kata Benny, pola TBB di dua pelabuhan di Banten yakni pola tiba dan berangkat dari Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Ciwandan terjadi pembebanan yang cukup berat saat bongkar di Pelabuhan Bakauheni.

Idealnya Pelabuhan Merak berpasangan dengan Pelabuhan Bakauheni. Namun saat angkutan Lebaran Pelabuhan Ciwandan juga berpasangan dengan Pelabuhan Bakauheni. Hal ini yang mengakibatkan terjadi pembebanan di Pelabuhan Bakauheni.

“Terkait dengan pola penyelenggaraan kapal kita, pola TBB, tadi sudah disampaikan. Memang dengan pengoperasian Ciwandan, penyampaian Gapasdap, pembebanan yang cukup berat yang ada di Bakauheni. Karena kita tahu perjalanan angkutan penyeberangan itu point to point. Sehingga idealnya satu pelabuhan A dan pelabuhan B itu berpasangan. Tetapi dengan diberlakukannya Ciwandan (Dermaga) 5A, 3 dan 7, itu tentu memberikan pembebanan kepada Bakauheni,” ujar Benny kepada media usai rapat.

Baca juga  Pertemuan Komwil III APEKSI di Depok, Wali Kota Helldy Ungkap Bonus Demografi 2045 Jadi Bahasan Utama

Benny mengungkapkan, dari masukan tersebut agar tidak terjadi pembebanan diharapkan kedepan Pelabuhan Ciwandan dapat dipasangkan dengan Pelabuhan Panjang, Lampung. Dengan dipasangkannya Pelabuhan Ciwandan dan Pelabuhan Panjang, tidak terjadi kepadatan dan kapal juga dapat dihindari mengapung terlalu lama di laut.

“Sehingga ini ke depan harapan dari Gapasdap kalau bisa Ciwandan itu tidak melayani Bakauheni tetapi langsung melayani Panjang,” tuturnya.

“Saya pikir itu kalau bisa diwujudkan, saya pikir bisa mengurai kepadatan yang terjadi di Merak. Karena dengan pola TBB dan distribusi pergerakan dari Ciwandan Merak ke Bakauheni tidak bisa mengindari adanya pengapungan kapal,” sambungnya.

Selain terkait pola pengoperasian kapal, BPTD Banten juga mengevaluasi terjadinya kepadatan pemudik hingga jalan tol. Agar tidak terjadi kepadatan hingga keluar pelabuhan, BPTD Banten mendorong agar dapat membangun buffer zone atau area parkir kendaraan. Menurutnya, buffer zone bisa mengurangi kepadatan kendaraan pemudik.

“Terkait diluar pelabuhan. Bagaimana kita mendorong adanya buffer zone. Karena buffer zone ini adalah satu tool yang bisa mengurangi pembebanan atau penumpukan di pelabuhan. Kemarin kita tahu ada 19 ribu penumpang yang tidak bertiket dan bahkan sudah bertiket tetapi tidak sesuai, itu numpuk. Mulai dari H-5, H-4 dan H-3, ini sangat berpengaruh terjadinya kemacetan baik disekitar pelabuhan maupun di jalan tol,” paparnya.

Baca juga  Pertemuan Komwil III APEKSI di Depok, Wali Kota Helldy Ungkap Bonus Demografi 2045 Jadi Bahasan Utama

Sejauh ini, kata Benny, ada satu buffer zone yakni di Tol Tangerang-Merak Km 97 yang tengah digodok pemerintah. Pihaknya berharap pada Angkutan Lebaran 2025 ada buffer zone tambahan selain Km 97 untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan pemudik.

“Sementara Km 97 yang lagi dibicarakan, ke depan kita berharap untuk mengantisipasi Angkutan Lebaran Tahun 2025, kalah itu belum selesai, harus ada buffer zone yang perlu kita persiapkan untuk menampung arus kendaraan,” paparnya.

Selain dua hal itu, Benny juga menyinggung perlu adanya dermaga tambahan selain di Pelabuhan Merak-Bakauheni. Pihaknya ke depan coba akan mengusulkan dermaga penyeberangan Margagiri-Ketapang yang sebelumnya sempat dikaji sebagai alternatif Pelabuhan Merak-Bakauheni.

“Prinsip bahwa kondisi Merak ini sudah harus ada penambahan, infrastruktur dermaga. Memang kalau dari kami menyarankan adalah paling tidak ada di wilayah timur Pelabuhan penyeberangan baru. Kita tahu dulu ada studi, Margagiri-Ketapang, itu pernah diwacanakan. Nah ini kami dari BPTD akan menelusuri kembali rencana itu,” pungkasnya. (Ronald/Red)