Rostini, warga Cilegon berkerja sebagai instruktur senam yang harus terkapar penghasilan karena virus corona

CILEGON, SSC – Bagi seorang ibu yang memiliki anak tentu apa saja akan dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Meski harus berhutang sekalipun ke orang lain asalkan keluarganya bisa bertahan hidup.

Inilah yang dirasakan oleh Rostini, warga Cilegon yang berprofesi sebagai instruktur zumba. Akibat wabah corona, ekonominya langsung terkapar. Ia rela berhutang ke siswa tempatnya mengajar zumba agar keluarga kecilnya bisa makan.

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dirinya hanya mengandalkan pekerjaanya sebagai instruktur zumba di beberapa sanggar zumba di Kota Cilegon. Namun, karena adanya virus corona dan pemerintah mengintruksikan semua tempat zumba maupun lokasi yang banyak kerumunan untuk ditutup, akhirnya penghasilannya pun berimbas cukup luar biasa.

Ia bercerita, jika dirinya telah berpisah dengan suaminya cukup lama. Ibu dua anak ini menjadi tulang punggung keluarga. Kini, karena virus corona, dirinya pun tak memiliki penghasilan apapun.

“Saya seorang janda 2 anak. Semenjak ada virus corona ini, penghasilan 1000 rupiah pun saya tidak ada. Sebab, saya hanya mengandalkan profesi saya sebagai instruktur senam. Untuk makan saja saya susah. Semua sanggar yang saya miliki dan sangar milik orang lain harus tutup karena virus ini,” cerita Rostini kepada Selatsunda.com,” Jumat (10/4/2020).

Sebelum ada virus corona, ia biasa mendapat penghasilan dari member tempatnya kerja sebesar Rp 2 juta. Bahkan, dari pekerjaanya itu bisa membiayai kuliah anaknya. Kini dia pun hanya terdiam dirumahnya akibat virus yang menghentikan usahanya.

“Kalau enggak ada virus ini saya bisa kantongi satu sanggar minimal Rp 2 juta. Karena virus ini, jangankan satu sanggar, 4 sanggar yang saya pegang aja tutup karena virus ini. Sedih amat Mba, mau buat makan aja susah, ini saya harus memikirkan untuk membayar rumah BTN yang cukup tinggi,” akunya.

Covid-19 memang sudah membuat ekonominya terpuruk. Selain harus membayar tagihan rumah sebesar Rp 1 juta juga harus memenuhi kehidupan keluarga yang cukup besar.

“Untuk bayar cicilan rumah dan kehidupan sehari-hari, saya harus pinjam uang ke anak murid saya. Sebenarnya saya enggak mau begini, tapi saya bingung harus bagaimana? Anak saya pun satu menganggur. Itu pun jadi pikiran saya. Saya minta tolong agar pemerintah bisa memperhatikan nasib kami dan yang lain dengan kondisi ini,” tungkasnya. (Ully/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here