Direktur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim di wawancara di Hotel The Royale Kralatau, Kota Cilegon soal kasus dugaan korupsi suap pengadaan barang dan jasa, Jumat (29/3/2019). Silmy belum berkomentar banyak kabar kasus itu berkaitan dengan pengadaan barang di pabrik Blast Furnace. Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Dirut PT Krakatau Steel (KS), Silmy Karim belum banyak memberi komentar terkait kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa yang menyeret Wisnu Kuncoro, Direktur Teknologi Dan Produksi. Mantan Direktur PT Barata Indonesia ini belum merespon kabar yang menyeret anak buahnya itu dalam kaitan pengadaan barang di Pabrik Blast Furnace (BF) di Kawasan Industri KS Cilegon.

“Saya belum dapat konfirmasi menyangkut yang mana. Saya baru denger-denger juga, enggak tepat kalau misalnya saya merespon. Apapun itu, kita kan prihatin dan menyayangkan,” kata Silmy Karim, Dirut KS, saat ditemui usia tatap muka dengan vendor di Hotel The Royale Krakatau, Cilegon, Jumat (29/03/2019).

Sejauh ini, kata Silmy, Pabrik penghasil iron ore fines, return fines, flux, dan coke oven plant yang diklaim mampu menghasilkan baja 4,5 juta ton per tahun ini dalam tahapan pengujian peralatan yang tengah diisntalasi. Seiring itu KS juga tengah mereksturisasi kredit bank proyek tersebut. Seluruhnya, sambungnya, tengah diupayakan untuk diselesaikan supaya BF dapat cepat dioperasikan.

“Ini kan ada proses commisioning, kan partial commisioning. Jadi kita operasikan, kan sekarang itu juga lagi kan restructuring hutang bank, lagi dalam proses. Kan ini harus seiring, sejalan. Supaya continuity daripada operasional BF lancar,” terangnya.

“Karena operasional BF itu sekali jalan tidak boleh berhenti. Sehingga kita harus jaga ketika On, tidak boleh berhenti. Nah ini juga dibutuhkan supporting yang prima,” ujarnya.

Soal peralatan yang digunakan, papar Silmy, teknologi BF berbasis teknologi dari China. Teknologi ini seperti teknologi yang sudah pernah ada di negara lain.

“Ya kontraktornya memang (Teknologi BF) ditunjuk dari China. Mengenai teknologinya, saya pikir teknologi BF itu kan teknologi yang sudah ada jauh sebelumnya. Saya lupa, mungkin dari Jerman atau dari Inggris,” ujarnya.

Disinggung adanya kabar di publik tentang teknologi BF Jerman jauh lebih baik dari China, ia tak ingin berkomentar. Silmy langsung menutup wawancara dengan bergegas meninggalkan awak media.

“Saya ngga boleh menjawab (teknologi mana yang lebih bai), tendensius nanti. Sudah ya, saya sudah ditunggu di Jakarta,” pungkasnya. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?