CILEGON, SSC – Lalu lintas peredaran daging celeng ilegal dari Pulau Sumatera ke Jawa selalu menjadi perhatian Badan Karantina Pertanian. Namun di balik itu, daging yang peredarannya kerap ditangkap karena diselundupkan secara ilegal ini bukan tanpa manfaat.

Saat ini, Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani pada Badan Karantina Pertanian tengah merumuskan aturan baru untuk menangani permasalahan daging babi hutan ini. Salah satunya, menjadikan daging celeng ini untuk pakan hewan yang bermanfaat dibarengi dengan tata kelola pengawasan yang tepat.

“Saat ini daging celeng yang dilalulintaskan sesuai persyaratan perkarantinaan dijadikan  sebagai pakan hewan,” ungkap Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Badan Karanrina Pertanian, Agus Sunarto saat memberikan keterangan persnya di Hotel Royale Krakatau Cilegon, Jumat (21/9/2018).

Pada dasarnya, daging celeng yang dikenal selama ini dipandang sebagai hama bagi pertanian. Padahal disisi lain, babi hutan ini dijadikan sebagai mata pencaharian tambahan bagi pengepul yang dagingnya dimanfaatkan untuk pakan ternak di Taman Margasatwa. Oleh karenanya, pemanfaatan dan lalu lintas daging ini perlu di tata dan diawasi oleh seluruh pihak agar tidak disalahgunakan bahkan merembes ke pasar bebas.

“Setiap instansi terkait melakukan pembinaan dan pengawasan yang berkelanjutan dengan mekanisme pengawasan yang  secara koordinatif dan berbasis teknologi informasi sehingga upaya penyalahgunaan daging celeng bisa dihindari dan juga pemanfaatan daging celeng sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Pertanian Cilegon, Raden Nurcahyo mengatakan, daging celeng bukan tanpa manfaat. Selama tahun 1995, daging celeng telah dimanfaatkan untuk pakan ternak hewan di Kebun Raya Ragunan. Agar daging untuk pakan hewan ini dapat dimaksimalkan, tata kelola lalu lintasnya harus diperketat sesuai aturan. Dengan begitu, peredaran celeng ilegal diminimalisir.

“Memang (pemberlakuan aturan khusus daging celeng) akan berdampak, karena yang ilegal diharapkan akan menjadi tertib. Sebenarnya ini bukan masalah boleh atau tidak boleh. Tetapi kalau dia (penyelundup) terbina, (secara tidak langsung Karantina telah membina) dia mengurus persyaratan dokumen baik bakteri, cacing dan sebagainya. Yang ditangkap ini kan yang tidak memenuhi persyaratan,” paparnya.
(Ronald/Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini