Sebuah Tugboat melintas di Perairan Merak, Kota Cilegon. (Foto Dokumentasi)

CILEGON, SSC – Bisnis jasa pandu dan tunda kapal tugboat yang dijalankan PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PT PCM) meningkat selama tahun 2018. Peningkatan bisnis ini dipengaruhi oleh adanya peluang yang besar pada pelayanan kapal asing.

Dari data kunjungan 5.477 kapal di Banten, Gerakan kapal tugboat PCM untuk pelayanan kapal asing mencapai 1.196 gerakan atau sekitar 60 persen. Jumlah gerakan kapal ini tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya. Pelayanan gerakan untuk kapal asing tahun 2017 mencapai 1.184 gerakan atau sekitar 57 persen.

Jasa pandu dan tunda kapal asing ini juga cenderung lebih tinggi dari pada jasa untuk kapal dalam negeri atau lokal. Jasa kapal lokal pada 2017 hanya 413 kapal atau 13 persen sementara 2018 tercacat 488 kapal atau 14 persen.

Direktur Operasional dan Komersil PT PCM, Akmal Firmansyah menyatakan, pelayanan jasa pandu dan tunda lebih dititikberatkan kepada pelayanan kapal berbedera luar negeri. PCM melihat kecenderungan peluang bisnis segmentasi ini lebih menguntungkan. Pangsa pasar ini juga dilirik dengan mempertimbangkan dan menganalisa bisnis kompetitor.

Data PCM, Jasa pandu dan tunda kapal tugboat kompetitor tahun 2017 untuk pelayanan kapal asing mencapai 423 gerakan atau 22 persen, kapal lokal 1.456 gerakan atau 47 persen. Untuk 2018, gerakan kapal asing mencapai 489 gerakan atau 24 persen, kapal lokal sebanyak 1.858 gerakan atau 53 persen.

“Jadi seperti Pelabuhan Ciwandan, Merak Mas, OTM, Chandra Asri, Pertamina, itu kan dilayani kompetitor karena ada KSO (Kerja Sama Operasi), Jadi (pelayanan tugboat PCM) tidak bisa oleh kita. Pangsa pasar kita ini lebih untuk kapal berbedera luar negeri, kapal asing. Jadi peluang itu, masih ada yang bisa dilayani oleh kita. Peluangnya ada sekitar 16 persen, ini bisa dilayani kita, bisa juga dilayani kompetitor,” ujar Akmal ditemui di kantornya, Jumat (01/3/2019).

Soal peluang pelayanan kapal lokal, tidak menjadi peluang yang begitu dilirik. Karena perkiraan kalkulasi bisnisnya justru merugi.

“Kalau kita lihat, misalnya Pertamina itu memang mau kerjasama dengan kita. Tetapi setelah kita kalkulasi, kita hitung, tarifnya berbeda. Kalau untuk (jasa untuk kap) lokal, kita bisa rugi karena BBM kita tidak subsidi. BBM-nya tarif industri. Lain kalau kompetitor, kan BBM mereka subsidi,” tandasnya.

Untuk menjaga relasi dengan rekan bisnis, lanjut Akmal, PCM mengeluarkan sejumlah kebijakan. Salah satunya, kebijakan berupa kemudahan pembayaran tagihan. Kebijakan ini dibuat dengan dasar kepercayaan atau trust.

“Misalnya kalau kompetitor, pembayaran tagihan dengan sistem uang muka, kalau kita tidak seperti itu. Kita ada keringanan tanpa down payment, itu lebih kepada kepercayaan bisnis kita dengan agen kapal,” pungkasnya. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?