Salah satu caleg Cielgon, Asid (50) memperlihatkan kegoatannya membantu kkaum dhuafa sata berada di kediamannya di Lingkungan Cieriu, Kelurahan Samang Raya, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, Jumat (22/3/2019). Foto Elfrida Ully/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Meski tak memiliki modal yang cukup besar untuk ikut pemilu 2019, Asid (50), warga Lingkungan Cieriu, Kelurahan Samang Raya, Kecamatan Citangkil tetap semangat dan bertekad menjadi calon anggota legislatif (caleg) Kota Cilegon dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pria tiga anak yang bekerja sehari-hari sebagai sekuriti di salah satu industri di Cilegon ini memberanikan diri untuk maju bersaing dengan caleg lainnya.

Caleg dari Daerah Pemilihan II Citangkil-Ciwandan ini menceritakan segudang kisah hidupnya menjadi caleg saat wartawan Selatsunda.com menyambangi rumah kediamannya, Jumat (22/3/2019) yang tak begitu besar dan mewah. Perbincangan itu pun diawali dengan memperlihatkan berbagai album kenangan. Tak lepas album-album tentang dirinya berkegiatan menolong kaum dhuafa. Walaupun karirnya hanya sebatas seorang penjaga keamanan, ia tetap menolong orang yang berkesusahan. Dia menilai Pemerintah Kota Cilegon maupun DPRD masih kurang perduli dengan kaum dhuafa dan yatim piatu di wilayah ia tinggal. Latar belakang inilah menjadi tekad besarnya maju menjadi caleg untuk memperjuangkan nasib masyarakat yang berkekurangan.

“Dulu saya bersama teman saya sama-sama memperjuangkan nasib kaum dhuafa dan yatim dengan menunjukan proposal. Tapi, tidak ada satupun keperdulian dari masyarayat bahkan dari lurah maupun camat untuk membantu mereka. Bahkan, saya juga pernah mencoba memberanikan diri bertemu dengan Bu Sekda (Sari Suryati,red) tapi dihalang-halangi. Karena kondisi itulah, akhirnya saya memberanikan diri kenapa tidak mencoba menjadi caleg di DPRD? Dengan bisa duduk sebagai anggota DPRD siapa tau bisa menyerap banyak aspirasi dan mendengarkan keluh kesah masyarakat khususnya kaum dhuafa di Cilegon,” tutur Asid dengan nada sedih.

Usaha itu tidak mengurungkan dia terus memperjuangkan nasib kaum dhuafa. Tiba di suatu saat, ia pun akhirnya bertemu dengan Ketua PPP Cilegon, Sihabudin Sibli. Ia menyampaikan keinginannya menjadi caleg sekalipun tak memiliki logisitik yang besar.

“Saya ketemu dengan Pak Ketua (Sihabudin Sibli,red) dan bilang ke beliau kalau saya mau ikut jadi caleg. Tapi, saya gak punya uang besar. Pak ketua langsung merespon saya dengan baik. Yah udah nyalon aja. Yang penting udah usaha dan jangan lupa ikhtiar yang banyak,” ujarnya seraya menirukan nada Ketua PPP.

Untuk membeli atribut kampanye, pria paruh baya ini pun menuturkan, jika ia mendapat bantuan dari para donatur yang ingin membantunya. Berbagai bantuan yang diterimanya mulai dari kalender, kartu nama hingga spanduk jadi modal baginya untuk berkampanye dan melanggang ke parlemen.

“Gaji saya sebagai sekurity hanya Rp 3,6 juta per bulan. Gaji saya, seluruhnya buat keluarga bukan buat membeli APK. Untuk membeli APK, saya meminta bantuan dari teman-teman dan donatur. Saya sampaikan, kalau saya maju jadi caleg. Akhirnya, satu persatu orang yang gak kenal saya, dengan baik hati membuatkan kalender, kartu nama hingga spanduk,” paparnya.

Dia berharap, keturutsertaannya dalam pesta demokrasi ini dapat diterima masyarakat. Sehingga tujuan utamanya untuk memperjuangkan nasib kaum dhuafa dan yatim piatu dapat terwujud.

“Saya ingin nasib kaum dhuafa dan yatim piatu di Cilegon bisa lebih diperhatikan. Jangan adanya tujuan tertentu minta suara rakyat. Tapi giliran sudah duduk di bangku wakil rakyat justru melupakan rakyat,” harapnya. (Ully/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?