Lokasi Pelabuhan Warnasari milik Pemerintah Kota Cilegon di area Kawasan Industri KS, Kota Cilegon. Foto Dokumentasi

CILEGON, SSC – PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM) selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Cilegon yang mengurus rencana pembangunan Pelabuhan Warnasari belum memutuskan untuk tidak memperpanjang nota kesepahaman bersama atau Memotandum of Understanding (MOU) yang dijalin dengan PT Bosowa Bandar Indonesia sehubungan dengan adanya peminatan yang sama dari PT Krakatau Steel.

Hal ini disampaikan Plt Direktur Utama PT Pelabuhan Cilegon Mandiri, Arief Rivai Madawi di konfirmasi usai menghadiri Rapat Paripurna Pemberhentian Walikota Cilegon di DPRD Cilegon, Senin (14/1/2019).

Lebih jauh Arief menjelaskan, PCM belum melangkah lebih jauh menyangkut peminatan itu bahkan memutus MOU dengan Bosowa. Peminatan KS, kata Arief masih sebatas penjajakan.

“Nggak, nggak (Putus MOU dengan Bosowa). Kita kan belum memutuskan sesuatu. Kan gini, proses rekanan, proses mitra, itu kan harus melalui proses pengumuman publik juga. Kalau masalah MOU kan banyak variasinya. Kita menggunakan akses jalan KS, atau ada sisi penawaran kerjasama. Ya kita jajaki lah sebagai lembaga yang bergerak di bidang usaha itu. Jadi itu, perlu ada proses penjajakan dan kemudian kalau konsep kerjasama itu saling menguntungkan, siapapun tidak jadi masalah,” ujarnya.

Arief memaparkan, MOU yang dibuat selama ini dengan pihak Bosowa belum menentukan kesepakatan tentang hak dan kewajiban yang melekat pada kedua pihak. Kesepakatan yang tertuang dalam MOU masih secara umum. Dijelaskannya seperti pengurusan perizinan baik perizinan sisi laut dan sisi darat murni kewenangan PCM dan tidak memiliki kaitan dengan nilai investasi Bosowa pada MOU yang diteken.

“Kalau PCM bertanggungjawab atas semua perizinan, baik amdal (perizinan sisi darat), perjanjian konsensi (perizinan sisi laut), maupun izin yang lain itu kewenangan PCM. Tidak dibebankan ke mitra kerjasama, jadi murni adalah PCM,” urainya.

“Konsesi (yang diajukan ke Kemenhub) itu tetap (atas nama PCM). Kalau investasi itu kan terpisah dari konsesi. Itu kan B to B antara PCM dengan Bosowa, tidak menyangkut masalah perizinan. Investor itu biasanya akan deal, ketika perizinannya sudah selesai semua,” paparnya.

Baca : Ekspansi Bisnis Pelabuhan, Krakatau Steel Lirik Pelabuhan Warnasari

Soal peminatan KS akan berimplikasi dengan rencana kerjasama PCM dengan Bosowa, Arief menilai, kondisi tersebut adalah sesuatu yang wajar dalam bisnis. Rencana kerjasama keduanya baik Bosowa ataupun KS masih tetap dikaji pihaknya. Saat ini, PCM masih tetap fokus dan berkonsentrasi pada penyelesaian perizinan.

“Saya kira tidak ada yang salah. Artinya, Wajar-wajar saja, ini kan bisnis. Semua punya suatu hak dalam sisi menawarkan, sementara kita masih menunggu semua. Kita juga mau mengkaji mitra-mitra kerjasama kita yang saling menguntungkan terutama kepentingan daerah, kenapa tidak kan gitu,” tandasnya.

Sampai saat ini, kata Arief, rencana KS masih sebatas peminatan. Keputusan menjalin kerjasama juga masih belum final.

“Belum, belum. Intinya masih penjajakan,” pungkasnya.

Sementara itu, Komisaris Utama PT PCM, Ratu Ati Marliati belum mengetahui persis sejauh mana peminatan KS melirik rencana pembangunan Pelabuhan Warnasari. Sekalipun masa MOU dengan Bosowa telah habis, secara etika PCM semestinya membahasnya terlebih dahulu dengan Bosowa bila ada rencana masuknya KS.

“Memang belum didapatkan secara detail. Memang MOU dengan Bosowa sudah habis. Nanti apakah lanjut atau tidak, sebaiknya PCM harus menanyakan kembali secara etika. Walaupun secara otomatis kalau (MOU) sudah habis, sudah selesai, itu boleh,” ujarnya.

Soal kerjasama yang akan banting stir dari Bosowa ke KS, Ati belum dapat menjelaskan lebih lanjut. Rencana KS masih perlu dibahas bersama.

“Sejauh ini kalau banting stir, kita harus mengetahui, KS ini minatnya serius atau seperti apa. Kan kita punya lahan 45 hektar, apakah dikerjasamakan semua atau tidak, saya belum tahu,” tandasnya.

Diketahui, PCM telah menjalin MOU dengan salah satu holding company Bosowa Corporation yakni PT Bosowa Bandar Indonesia pada 24 Februari 2017 lalu untuk rencana kerjasama pembangunan Pelabuhan Warnasari. Belakangan pada awal januari 2019, PT Krakatau Steel menyatakan minatnya untuk terlibat pembangunan Pelabuhan Kota Cilegon di luasan lahan 45 hektar itu. Bahkan peminatan itu ditindaklanjuti KS bertemu dengan Plt Walikota, Edi Ariadi dan Direksi PCM di Kantor Pemerintah Cilegon pada 10 Januari 2019 lalu. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?