Kantor KSOP Kelas I Banten (Foto Dokumentasi)

CILEGON, SSC – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banten memanggil anak Perusahaan PT ASDP yakni PT Pascadana Puratama sehubungan dengan adanya berbagai keluhan dari pengusaha lokal di Banten yang bergerak di bidang usaha jasa perbaikan dan pemeliharaan alat keselamatan pelayayaran. Pasalnya, keluhan tersebut menyangkut tentang dugaan monopoli pekerjaaan pemeliharaan alat keselamatan yang dilakukan Pascadana di kapal-kapal milik PT ASDP.

Kepala Seksi Sertifikasi Kapal KSOP Banten, Made Suartama, Jumat (22/3/2019) yang di konfirmasi membenarkan adanya keluhan itu. Pengusaha lokal di Banten, kata dia, sempat mempertanyakan kepada pihaknya tentang keberadaan anak perusahaan BUMN ini. Menurut keluhan yang disampaikan, paparnya, keberadaan Pascadana dituding telah mematikan usaha pengusaha lokal. Pekerjaan pemeliharaan alat keselamatan kapal ASDP di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon tidak sama sekali diberi kesempatan kepada pengusaha lokal.

“Cerita awalnya, ASDP ini kan menggunakan jasa dia (Pascadana). Ada dua orang yang kemarin sudah kita panggil mereka. Kemarin kita desak mereka kesini dan sudah kooperatif. Jadi kita ingin melokalisir saja, supaya tidak ada konflik (dengan pengusaha lokal). Makanya, kita mempertanyakan keberadaan dia,” ungkapnya.

Lebih lanjut Made menjelaskan, keberadaan Pascadana yang mendapat proyek pemeliharaan alat keselamatan kapal ASDP di Pelabuhan Merak banyak dipertanyakan perusahaan lokal. Padahal diketahui lokasi kantor Pascadana tidak berada di Banten melainkan di Jakarta. Hal inilah yang membuat perusahaan lokal mengeluh. Mereka menilai, kata Made, tidak diberi kesempatan berusaha di kapal ASDP. Ditambah lagi yang dikeluhkan, sambungnya, Workshop Pascadana juga tidak berada di Banten.

“Kita anjurkan untuk mengurus (workshop) disini atau workshop kalau bisa kerjasama (dengan perusahaan lokal), jadi dicantumkan nama workshop disini. Supaya bisa mengakomodir semuanya,” paparnya.

Pada prinsipnya, papar Made, legalitas seluruh perusahaan yang bergerak dalam usaha perbaikan alat keselamatan kapal dikeluarkan oleh Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemehub RI. Perusahaan di Banten yang telah mendapat izin usaha tersebut tercatat kurang lebih sebanyak 15 perusahaan. Lima diantaranya aktif berkegiatan. Supaya tidak terjadi konflik, Pasca Dana dianjurkan untuk kerjasama dengan Workshop perusahaan lokal atau membuka workshop di Banten. Anjuran itu juga diharapkan dapat memudahkan pihaknya melakukan pengawasan.

“Yang diizinkan ada 10 perusahaan lebih di Banten. Tapi yang aktif 4 atau 5 perusahaan saja. Supaya tidak terjadi (gesekan), dia (Pasca Dana) bisa kerjasama dengan (perusahaan lokal) yang ada disini. Supaya tidak ada tudingan monopoli yang dikeluhkan. Sebenarnya memang izin dia itu dari Balai, tapi kita, karena sudah terlanjur, kita anjurkan kerjasama dengan workshop disini,” terangnya.

“Karena kan Kerjaan ILR (Infatable Liferaft) itu bisa dikerjakan diatas kapal. Workshop itu hanya tempatnya saja, alat-alatnya mereka bawa. Jadi aturannya itu bisa. Seperti liferaft, itu dibuka dan dilipat diatas kapal, itu bisa. Kalau yang perlu workshop itu seperti HRU (Hidrostatic Realease Unit),” paparnya.

Sementara itu General Manager PT ASDP Cabang Merak, Fahmi Alelweni enggan berkomentar banyak. Hal itu, kata dia, diminta dapat dikonfirmasi kepada GM Baru pasca lepas serah terima jabatan pekan depan.

“Kepada (General Manager) yang baru saja ya nanti,” ujar GM singkat. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?