Balai Karantina Pertanian Kelas II Kota Cilegon memusnahkan seekor sapi ras Bali yang terjangkit penyakit Zoonosis Brucellosis sp di Instalasi Karantina Hewan BKP Cilegon, Senin (11/2/2019). Foto Elfrida Ully Artha/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Laboratorium Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Kota Cilegon hampir 1 bulan, seekor sapi ras Bali positif terjangkit penyakit Zoonosis Brucellosis sp. Sapi dari salah satu pemilik di Kota Bekasi yang akan di lalulintaskan ke Ogan Ilir, Sumatera Selatan ini dimusnahkan BKP secara bersyarat di Instalasi Karantina Hewan BKP Cilegon, Senin (11/2/2019).

Kepala BKP Cilegon, Raden Nurcahyo Nugroho mengatakan, indikasi sapi terjangkit virus Zoonosis Brucellosis sp ini diketahui BKP pada akhir Januari 2019 lalu dengan memeriksa sebanyak 64 ekor sapi ras Bali asal Bekasi. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan pengambilan sampel darah dan pengujian Rose Bengal Test (RBT) 100 persen.

Setelah diuji, dua diantaranya positif RBT. Dua ekor sapi ini kemudian kembali diuji ke laboratorium dan masuk dalam pengawasan petugas di Instalasi Karantina Hewan. Ditemukan satu ekor positif terjangkit Zoonosis Brucellosis sp.

“Dari dua ekor sapi ini, kita periksa kembali di laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan di Laboratorium Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon dengan hasil uji positif. Selanjutnya dilakukan pengujian Complement Fixation Test (CFT) di Balai Veteriner Subang dan Balitvet Bogor dengan hasil keduanya menyatakan positif memiliki virus Zoonosis Brucellosis sp,” kata Raden diwawancara sejumlah wartawan usai melakukan penindakan.

Ia memaparkan, pemusnahan inidilakukan saat malam hari untuk meningkatkan nghindari penyebaran virus ke masyarakat luas.

“Kenapa kita lakukan di malam hari, karena kita khawatir dengan masyarakat jika mengihup bahkan menginjak darah dari sapi tersebut. Karena di dalam sapi ini, memiliki cairan exudat dan sarang-sarang nekrose pada organ-organ viseralnya. Sapi ini boleh dikonsumsi, asalkan dimasak selama 9 jam. Hanya daging saja yang bisa dimakan, sedangkan untuk tulang dan alat pencernaan tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat,” paparnya.

Terkait penyakit tersebut, kata dia, merupakan salah satu penyakit bakterial yang utamanya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba dan babi. Penyakit ini dapat ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis. Pada hewan betina, penyakit ini dicirikan oleh aborsi dan retensi plasenta, sedangkan pada jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesorius.

Ia berharap, masyarakat tetap berhati-hati agar terhadap hewan yang memiliki virus Zoonosis Brucellosis sp. Ia pun meminta, pedagang tetap menjaga kesehatan hewan yang akan dijual kepada masyarakat.

Diketahui, Pemotongan bersyarat ini disaksikan langsung oleh petugas Karantina, perwakilan pemilik sapi, Dinas Peternakan, Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP). (Ully/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?