Lapas Kelas IIA Kota Cilegon. (Foto Dokumentasi Selatsunda.com)

CILEGON, SSC – Sebanyak 140 narapidana kasus narkoba di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cilegon menjalani rehabilitas penyalahgunaan narkoba.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik (Kasi Binadik) Lapas Cilegon, Moch Yudha Triwangga mengatakan, program rehabilitas yang dijalani para napi ini sebagai bentuk keperdulian Kementrian Hukum dan Ham (Kemenhumam) kepada para napi pencandu narkoba agar bisa hidup sehat secara fisik dan rohani nya, sehingga bisa kembali hidup normal dan berguna saat kembali ke masyarakat.

“Di 2023 napi yang berhak menjalani program rehab ada 140 orang. 140 ini terdiri dari 100 napi menjalani rehab sosial dan 40 napi menjalani rehab medis,” kata Yudha kepada Selatsunda.com, Minggu (26/3/2023).

Baca juga  KPU Cilegon Beri Santunan Rp 42 Juta Kepada Keluarga Anggota KPPS yang Meninggal Dunia

Yudha menambahkan, program rehabilitas, Lapas Cilegon bekerjasama dengan Yayasan Rehab Wahana Cita Indonesia dari Tangerang.

“Program Rehabilitasi serta pelatihan kemandirian di bidang agrobisnis, manufacturing, dan lainnya bisa membantu program rehabilitasi berjalan sukses. Terlebih dalam program rehabilitasi, para napi tak hanya diberikan rehab medis tetapi juga rehab sosial berupa pelatihan-pelatihan keterampilan dan kewirausahaan, agar mereka bisa lebih siap kembali hidup normal di tengah masyarakat,” tambahnya.

Kata Yudha, mayoritas napi di Lapas Kota Cilegon 80 persen atau 700-800 narapidana merupakan kasus narkoba.

“Memang jumlah napi di Lapas Cilegon mayoritas kasus narkoba. Sedangkan yang menjalani program rehab hanya 140 orang. Kami upayakan napi yang belum menjalani rehab ini bisa menjalani rehabilitasi secara gratis dari pusat,” ujarnya.

Baca juga  Satu Anggota KPPS di Kota Cilegon Dikabarkan Meninggal Dunia

Yudha menuturkan, program kegiatan harian dalam proses rehabilitasi di desain dalam bentuk morning meeting, olah raga bersama, kegiatan terapi (konseling, terapi kelompok, pemeriksaan kesehatan, share filing, dll sesuai jadwal, recreational hour (waktu rekreasi sore), serta melakukan kegiatan kerohanian.

Ia pun membeberkan, pada pelaksanaan kegiatan rehabilitasi ini pihaknya mengunakan metode pembelajaran yang meliputi, assessment/konseling Individu/konseling kelompok.

“Saya berharap, mudah-mudahan mereka (WBP) menjadi baik dan tidak kembali lagi ke dalam Lapas sebagai napi residivis,” harapnya. (Ully/Red)