CILEGON, SSC – Menteri BUMN, Rini M Soemarno mengunjungi pabrik PT Krakatau Steel, Tbk di Kota Cilegon, Senin (14/10/2019). Rini datang dan langsung meninjau pabrik Blast Furnace yang baru saja dioperasikan.
Dalam kunjungan tersebut, Rini menyampaikan bahwa kunjungannya bermaksud untuk melihat fasilitas Pabrik BF yang sudah dibangun sejak 2012 lalu. Ia berterimakasih bahwa masuknya Silmy Karim sebagai Direktur Utama PT KS menjadi salah satu upaya BUMN untuk menyelesaikan masalah yang ada di KS.
Setelah turun dan meninjau langsung ke lapangan, kata Rini, masalah yang ada di Blast Furbace akhirnya sudah terselesaikan. Ia berharap dengan ekspansi pabrik lain diantaranya pabrik Hot Strip Mill 2 yang mulai dibangun mampu berkonstribusi untuk melanjutkan keberlangsungan bisnis KS dan produk yang dihasilkan dapat diterima pasar.
“Alhamdulilah, sudah terselesaikan dan saya melihat sendiri. Bahkan untuk Hot Stip Mill kedua yang diharapkan bisa membangun ketipisan yang sangat tipis. Hanya 1,4 mili dimana itu sangat dibutuhkan di pasar,” tuturnya.
Ia juga berharap, kondisi KS dapat lebih baik lagi. Karena seperti yang selama ini diketahui, kata dia, KS mengalami situasi bisnis yang berat. Namun dari kebijakan yang diambil, KS kini sudah bisa merestrukturisasi hutangnya. Diharapkan tahun depan bisnis KS sudah bisa sehat dan bangkit kembali.
“Insya Allah, dengan demikian ks bisa lebih sehat. Beberaap lama ini memnag sangat berat keadaan keuangan ks. Tapi alhamdulilah, kemarin juga pak silmy sudah bisa merestrukturisasi hutang. Perbankannya sudah mendukung semua. Insya Allah, mulai tahun depan makin sehat,” paparnya.
Sementara Dirut Silmy menyatakan, keberadaan pabrik HSM 2 kedepan akan menambah kapasitas produksi baja KS. Rencananya, kapasitas produksi Hot Roll Coil pada pabrik ini akan ditambahkan menjadi 1,5 juta ton dari yang sebelumnya 2,2 juta ton. Ia berharap rencana tersebut dapar berjalan tanpa kendala.
“Jadi itu kapasitas nambah 1,5 juta ton hot roll coil dengan ketipisan 1,4 milimeter. Dari yang sebelumnya 2,2 juta ton jadi 3,7 juta ton,” pungkas Dirut. (Ronald/Red)

