20.1 C
New York
Selasa, Mei 5, 2026
BerandaPemerintahanKisah Pasutri Tukang Sapu yang Banting Stir Jadi Petugas Pemandi Jenazah Covid-19

Kisah Pasutri Tukang Sapu yang Banting Stir Jadi Petugas Pemandi Jenazah Covid-19

-

CILEGON, SSC – Tidak semua mau menjalankan profesi sebagai pemandi jenazah pasien Covid-19. Tapi tidak dengan pasangan suami istri ini, Sabihis dan Matudoh. Warga Perumahan Ciberko, Lingkungan Kalitimbang, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon ini iklas untuk memandikan dan mengkafani pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Sabihis menceritakan pengalaman menjadi pemandi jenazah sejak 2018 lalu di RSKM Cilegon setelah sebelumnya hanya tukang sapu biasa.

Pekerjaannya makin padat sejak pandemi Covid-19 merebak diawal maret 2020. Ia mengaku, memandikan jenasah pasien Covid-19 berbeda dengan memandikan jenazah lainnya. Karena protokol kesehatan yang dijalankan harus diterapkan ketat. Begitu juga harus tetap memenuhi syariat terutama bagi yang agamanya Islam.

“Jadi saat mendengar di rumah sakit butuh pemandi jenazah akhirnya saya dan istri memberanikan diri. Daftar lah saya di 2018 dan alhamdullah saya diterima bekerja. Nah, di 2020 tepatnya di Maret, kan sudah mulai tuh Covid-19, dan dsitulah banyak permintaan jenazah Covid-19 untuk dimandikan,” kata Sabihis kepada Selatsunda.com, Minggu (7/3/2021).

Pria yang lahir tahun 1962 ini tidak menyangka, hingga Desember 2020 lalu, banyak sekali pasien covid-19 yang meninggal dunia. Sebagai manusia biasa, dia pun merasa takut mengingat di tengah menjalankan tugas harus menjaga  keluarganya. Bahkan, kekhawatiran muncul saat satu tim berhalangan datang, dan dia pun hanya sendirian untuk memandikan jenazah tersebut.

“Yah kalau pasien biasanya kan enggak pakai APD. Nah, awal-awal covid-19 ini, saya harus menggunakan APD, rasa waswas langsung muncul. Apalagi kalau tim ada yang sakit. Jadi saya kerjakan sendiri. Saya sih bukannya takut pada mayat, mengingat dari dulu pekerjaan menangani jenazah. Tapi takut terpapar virusnya,” katanya.

Meskipun ada rasa takut di awal pandemi, tugas yang dilakoninya dijalani seperti rutinitas biasa. Dia sudah terbiasa memandikan dan mengkafani pasien Covid-19 yang meninggal dunia ditangani dengan iklas.

“Saya tidak tahu kenapa. Yang jelas, perasaan was-was hilang seketika. Berganti rasa peduli dan kasihan,” paparnya.

Istri Sabihis yakni Mafudoh juga bertutur sama. Dia setiap bulannya sebelum pademi covid-19 biasa menangani 3-4 kali memandikan jenazah pasien. Tetapi, jenazah yang dimandikan setiap bulan selama Covic-19 melonjak. Setiap bulannya, dia dan suaminya memandikan 35 jenazah Covid-19.

“Tinggi-tinginya pas di 3 bulan belakang lalu. Apalagi, waktu pemandian jenazah pun gak tentu. Ada yang pagi, sore, malam bahkan dini hari pun dipanggil untuk memandikan jenazah Covid-19. Semua ini kita kerjakan dengan iklhas enggak neko-neko,” ujar

Ia berharap pademi covid-19 ini segera berlalu sehingga tidak adalagi pasien yang meninggal akibat pademi yang banyak menelan korban jiwa tersebut.

“Kami sih berharap covid-19 segera berlalu. Karena kasihan dengan keluarga yang ditinggal,” harapnya. (Ully/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen
- Advertisment -DEWAN 2