CILEGON, Selatsunda.com – Puluhan warga dari berbagai lingkungan di Perbukitan Cisuruh, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon melakukan aksi turun ke jalan mempertanyakan akses jalan utama mereka ditutup untuk aktivitas pekerjaan proyek PLTU Unit 9 dan 10, Rabu (10/8/2022). Warga menuntut agar akses jalan utama tidak ditutup sebelum akses jalan pengganti layak digunakan.
Ketua RT 05 RW 05 Lingkungan Gunung Penawen, Jemari mengatakan, aksi warga turun ke jalan bentuk reaksi atas adanya pemasangan spanduk penutupan jalan untuk pekerjaan proyek PLTU Unit 9 dan 10. Warga keberatan akses jalan utama yang biasa dilalui untuk aktivitas mereka ditutup. Karena akses jalan pengganti dinilai tidak layak untuk dilalui.
“Jadi pada tanggal 10 Agustus ada (informasi) penutupan jalan. Maka dengan itu masyarakat, melihat papan nama disitu, jadi masyarakat antusias turun. (Plang) Itu dari IRT dan Dosan. Itu bentuk reasi masyarakat setelah ada papan itu. Jadi Proyek 9-10 itu, menutup jalan akses jalan masyarakat yang selama dipakai, akan tetapi ada gantinya. Ada gantinya akan tetapi itu tidak layak dipakai baik kendaraan roda dua dan roda empat,” ujarnya.

Menurut Jemari, akses jalan pengganti yang disediakan tidak layak digunakan karena dinilai berpotensi membahayakan warga. Kondisi jalan saat berbelok dianggap terlalu menukik tajam.
“Jadi jalan terlalu menukik. Kalau dikala hujan itu, itu rawan kecelakaan bahkan licin. Belokan nukik itu tajam sekali dan kemiringannya sangat miring. Nah kemiringan ini dikhawatirkan saat mobil-mobil yang mengirim material ke lingkungan kami,” ungkapnya.
Ia dan ketua RT lain dari beberapa lingkungan di Perbukitan Cisuruh turut menyayangkan tidak ada keterlibatan pemerintah setempat untuk menyelesaikan masalah yang dialami warga. Jadi sebelum menutup jalan untuk aktivitas proyek kemudian jalan lama diganti dengan jalan baru, menurut Jemari, musyawarah dengan masyarakat setempat semestinya sudah terbangun terlebih dahulu.
“Itu yang saya sayangkan, tidak ada komunikasi dari pemerintah dengan kami ketua RT disana. Jadi maksud saya dan maksud masyarakat, sebelum proyek ini lahir, jalan dulu sudah lahir pak. jadi maksud saya kalau memang ada peralihan, kenapa tidak musyawarah dulu. Kalau memang ini mau dipakai proyek, jalan kemudian diganti, ini maksud saya harus konfirmasi, musyawarahkan dahulu dengan kami,” ucapnya.
Warga sebenarnya tidak menuntut banyak. Kata Jemari, warga hanya meminta agar jalan baru sebagai pengganti jalan yang lama layak digunakan. Karena akses jalan ke Perbukitan Cisuruh menghubungkan banyak lingkungan. Baik Lingkungan Cisuruh, Batu Payung, Gunung Penawen dan lingkungan lainnya.
“Masyarakat tidak menuntut apa-apa hanya jalan (baru) itu layak dipakai saja. Meskipun direlokasi ke jalan baru, (keinginan warga) tidak akan membuat masalah apa-apa. Kalau sudah layak, kita ucapkan terima kasih. Kalau ini kan tidak sesuai harapan kami,” terangnya.
Sementara, Humas PT Indo Raya Tenaga, Hamim coba dihubungi terkait hal ini belum dapat dikonfirmasi.
“Sebentar om, masih rapat dengan HSE,” ucapnya singkat lewat pesan pendek. (Ronald/Red)

