CILEGON, SSC – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Sabri Mahyudin tidak menampik ada sebanyak lima mesin pengolahan sampah di Pabrik Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung mengalami kerusakan. Kerusakan itu terjadi karena kualitas mesin yang dinilai kurang mumpuni.
“Jadi alat itu memang yang diserahkan dari IP (Indonesia Power), bagian dari hibah Rp 10 miliar, memang kondisinya, itu produk lokal, kurang mumpuni lah,” ujar Sabri ditemui awak media di kantornya, Rabu (30/7/2025).
Sabri mengaku belum memperbaiki mesin BBJP bukan karena alasan terdapat kebijakan efisiensi anggaran. Namun, rencananya, peralatan di pabrik BBJP itu akan diganti dengan alat baru dari investor perusahaan asal Korea yakni PT Green ECO Teknologi (GET). Di mana investor perusahaan Korea itu baru-baru ini melakukan MoU dengan Pemkot Cilegon.
“Itu nggak (karena efisiensi anggaran). Itu tidak diefisiensi, tapi memang masih ditahan. Tapi memang karena ada rencana ini mau diganti alat-alatnya, mungkin kita akan tahan juga anggarannya,” ucapnya.
“Jadi salah satu yang akan menjadi obyek untuk kerja sama dengan GET itu, adalah memodifikasi peralatan di BBJP. Jadi bangunan tidak dirubah, alatnya yang diganti,” sambungnya.
Sabri menjelaskan, andaikan peralatan BBJP diperbaiki maka akan sia-sia. Karena nanti akan diganti dengan peralatan dari Korea.
“Sepertinya (kalau diperbaiki), mubazir yach. Kita benerin, tapi nanti diganti. Kemarin mereka (PT GET) janji di akhir agustus dipasang alat-alat baru,” ujarnya.
Sabri menyinggung, pembangunan fisik pabrik dan peralatan BBJP itu telah diserahkan PT Indonesia Power kepada Pemkot Cilegon pada 2024 lalu. Saat ini, aset pabrik BBJP telah tercacat sebagai aset DLH Cilegon.
“Total semua Rp 10 miliar, tahun 2024 penyerahannya. Itu termasuk alat dan bangunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama pabrik BBJP beroperasi telah memberikan pendapatan bagi Pemkot Cilegon. Pendapatan itu masuk dalam pos pendapatan lain-lain.
Namun karena saat ini sejumlah mesin rusak, produksi BBJP menjadi berkurang dan berdampak terhadap pendapatan.
“Kalau rusak, produksinya berkurang, pendapatan juga sama. Kemudian kalau rusak juga mempengaruhi kalori, karena prosesnya beda-beda,” pungkasnya.
Pada pemberitaan sebelumnya, sejumlah mesin pengolahan sampah di Pabrik Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung, Kota Cilegon mengalami kerusakan. Mesin itu rusak karena sejak beroperasi belum ada perawatan. Pantauan Selatsunda.com di lokasi pada Jumat (25/7/2025), petugas terlihat tengah menyiapkan material sampah organik untuk diproses. Sebagian petugas lainya terlihat mencacah halus BBJP yang dihasilkan. Terlihat di tengah area pabrik terdapat tiga mesin skrining sedang tidak dioperasikan. (Ronald/Red)

