CILEGON, SSC – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon saat ini tengah menyusun Rencana Kontinjensi Kegagalan Teknologi. Hal itu dilakukan sebagai upaya strategis memperkuat sistem penanggulangan bencana di wilayah Kota Cilegon.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cilegon, Suhendi mengatakan, Kota Cilegon merupakan kota industri yang menjadi pusat aktivitas manufaktur, energi, dan kimia di Indonesia. Dengan kondisi itu, kota Cilegon menghadapi potensi risiko tinggi terhadap bencana non-alam, khususnya yang bersumber dari kegagalan teknologi atau kecelakaan industri.
Oleh karenanya, dengan adanya potensi tinggi itu penting untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah dengan menyusun dokumen Rencana Kontinjensi Kegagalan Teknologi.
“Cilegon adalah kota industri yang maju, tapi juga memiliki potensi risiko tinggi. Karena itu, kita harus siap dengan skenario penanganan yang terencana dan terkoordinasi. Rencana kontinjensi ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat kesiapsiagaan daerah,” ujar Suhendi ditemui di kantornya, Kamis (9/10/2025).
Rencana kontinjensi ini, kata Suhendi, disusun dengan melibatkan berbagai unsur baik akademisi dan para ahli bencana industri. Tujuanya untuk memastikan seluruh pihak baik pemerintah, dunia usaha, TNI-Polri, maupun masyarakat memiliki pedoman dan mekanisme yang jelas ketika terjadi keadaan darurat akibat kegagalan teknologi, seperti kebocoran bahan kimia, ledakan pabrik, atau gangguan sistem energi.
Ia menyatakan, dokumen rencana kontinjensi ini nantinya akan menjadi panduan operasional bagi seluruh instansi terkait dalam melakukan respons cepat, evakuasi, penyelamatan, dan pemulihan pascakejadian.
“Selain itu, penyusunan rencana ini juga melibatkan partisipasi aktif dunia industri melalui mekanisme koordinasi dan kesepakatan bersama antara Pemerintah Kota Cilegon dengan sektor usaha,” terang Suhendi.
Rencana kontigensi ini, juga kata Suhendi merupakan bagian dari pengembangan “Cilegon Multi-Hazard System”. Yaitu sistem terpadu penanggulangan bencana yang mengintegrasikan ancaman alam, industri, dan sosial dalam satu kerangka kebijakan yang menyeluruh.
“Kami berkomitmen menjadikan Cilegon bukan hanya kota industri, tetapi juga kota yang aman, tangguh, dan juara dalam pengelolaan risiko bencana,” terangnya.
BPBD Cilegon berharap melalui penyusunan Rencana Kontinjensi Kegagalan Teknologi ini dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
“Serta memastikan bahwa setiap pihak memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas dalam melindungi keselamatan warga dan keberlanjutan pembangunan,” pungkasnya. (Ronald/Red)

