Ketua DPD Aptrindo Banten Syaiful Bahri diwawancarai, Selasa (6/10/2020). Foto Ully/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Banten mempertanyakan pengenaan tarif tol dua kali lipat oleh pengelola jalan tol Tangerang-Merak, PT Astra Infra Toll Road terhadap kendaraan yang berlebih muatan.

Ketua DPD Aptrindo Banten Syaiful Bahri mengatakan, jalan tol semestinya dibuat untuk tidak memberatkan pengguna tol. Menurutnya, pengenaan tarif tol 2 kali lipat oleh pengelola justru membuat pengguna tol semakin menjerit.

“Ini malah yang kelebihan muatan ini disuruh keluar dari pintu tol terdekat, tetapi tapi kalau tidak mau, yach bayar dua kali jarak terjauh,” kata Syaiful kepada awak media di temui di kantornya di Jalan Lingkar Selatan, Kota Cilegon, Selasa (6/10/2020).

Baca juga  Tak Serahkan PSU, Pengembang Perumahan di Kota Serang Terancam Sanksi Pidana

Selain tarif, pihaknya mempertanyakan keuntungan yang dihasilkan dari pengenaan tarif 2 kali lipat oleh pengelola tol. Menurutnya bila keuntungan itu masuk ke kas negara maka bukan menjadi kewenangan pengelola untuk memungutnya.

“Jadi nanti dana hasil yang mereka dapatka, masuk ke mana? Ke kas negara atau masih kantong sendiri? Apabila masuk ke kas negara, semenstinya yang punya kewenangan dalam melakukan pungutan kan ada di aparatur negara bukan masuk ke PT Astra Infra Toll road selaku pengelola Jalan Tol tangerang-Merak,” jelasnya.

Ia mengaku cukup heran pengelola dalam menerapkan denda tarif terjauh tersebut tidak menjelaskan secara terinci dasar perhitungan berat muatan berlebih yang menjadi acuan.

Baca juga  Diduga Rem Blong, Truk Pengangkut Cairan Kimia Terguling di SPBU Grogol

“Mengacu pada aturan Menteri Perhubungan Nomor PM 134 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Penimbangan Kendaraan Bermotor di Jalan serta Penegakan Hukum Terhadap Overdimensi dan Overload (ODOL) 5 persen, toleransi 20 persennya kan tilang, suruh balik lagi. Tapi kalau begini kondisinya enggak jelas dan justru membuat pertanyaan bagi kami,” tandasnya.

Syaiful dalam penerapan denda tersebut juga menyinggung tentang teknis pemotongannya. Saat ini jika pengguna melanggar maka langsung di potong dari saldo uang elektronik pengguna tol.

“Kalau dulu lebih parah di taruh di kertas begitu saja. Nah saat ini langsung dipotong dari saldo e-Toll,” pungkasnya. (Ully/Red)