SERANG, SSC – Permasalahn jalan-jalan lingkungan di Kecamatan Kasemen, Kota Serang yang rusak menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota Serang yang harus diselesaikan pada 2022 mendatang. Begitu pun kemiskinan belum terentaskan, pengangguran hingga minumnya jamban masih perlu menjadi perhatian.
Hal ini terungkap dalam Musyawarah Perencanaan pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan Kasemen di gedung Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu, Senin (25/1/2021).
Camat Kasemen, Mashudi mengungkapkan, saat ini masalah jalan rusak di Kasemen terdapat di 10 kelurahan. Kemudian dari total 96.000 warga, 4.800 orang diantaranya tergolong tidak mampu atau warga miskin. Sementara sekitar 28.800 orang warga atau 30 persennya masih mempunyai kebiasaan buang air besar sembarangan (dolbon).
“Itu menjadi perhatian kami dan Pak Wali (Syafrudin) agar dua itu (infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat), minimalnya di kurangi,” katanya.
Aspirasi-aspirasi tersebut, kata dia, akan diusulkan untuk menjadi prioritas. Seperti jalan rusak akan diusulkan untuk diperbaiki. Sementara upaya untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, Pemkot Serang tengah menyiapkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kecamatan Kasemen menjadi zona industri.
“Akibat pengangguran jadi kemiskinan, maka daerah Kasemen yang akan menjadi daerah Industri diharapkan dapat menyerap masyarakat kami menjadi tenaga kerja,” tuturnya.
Sementara, Walikota Serang, Syafrudin mengakui, masih banyak aspirasi warga Kasemen yang menjadi pekerjaan rumah bagi pihaknya. Salah satu solusinya mengenai kemiskinan dan pengangguran, kata dia, dilakukan dengan menjadikan wilayah Kasemen menjadi daerah industri.
“Akan lebih bagus karena wilayah industri, di sini banyak pengangguran dan masyarakat miskin,” katanya.
Dengan dijadikannya Kasemen tepatnya di Kelurahan Sawah Luhur sebagai wilayah Industri, kata dia, potensi yang ada akan semakin terbuka. Upaya ini tidak sampai menggerus lahan pertanian. Justru dengan terbuka untuk industri, lanjutnya, kemiskinan dan pengangguran dapat diatasi.
“Tidak tidak akan menganggu pertanian. Kajian sudah selesai, tunggu investor saja,” pungkasnya. (SSC-03/Red)

