CILEGON, Selatsunda.com – Gapasdap menyerukan 4 tuntutan jika pemerintah tidak memberlakukan tarif baru angkutan penyeberangan di 23 lintasan penyeberangan di Indonesia. Salah satunya akan mengurangi trip kapal tidak terkecuali di penyeberangan terpadat di Indonesia, Penyeberangan Pelabuhan Merak-Bakauheni.
Sekretaris Jenderal DPP Gapasdap, Aminudin Rifai mengatakan, alasan mengapa jumlah trip kapal dikurangi karena dampak kenaikan BBM subsidi solar 32 persen. Secara perhitungan yang dilakukan pihaknya, kenaikan BBM mempengaruhi biaya HPP (Harga Pokok Produksi) kapal 10-14 persen. Belum lagi kenaikan BBM juga akan mengerek biaya lainnya seperti harga sparepart kapal.
“Dari kenaikan BBM itu kita terpengaruh 10-14 persen dari harga pokok, belum termasuk dampaknya. Kalau kita beli suku cadang nanti harganya tinggi, kemudian inflasi naik, adanya biaya keselamatan juga tinggi. Tapi kita hitung dampak kenaikan BBM terhadap industri HPP itu 10-14 persen,” ujarnya usai aksi demonstrasi di Kantor BPTD Banten, Kamis (22/9/2022).
Dengan dampak kenaikan BBM, kata Aminudin, bisa diestimasi biaya tambahan yang dikeluarkan satu kapal dalam satu hari untuk membeli BBM Rp 30-40 juta. Maka dari itu, jika kenaikan tarif baru penyeberangan tidak diberlakukan, kapal-kapal sulit beroperasi.
“Kalau ini tidak segera diputuskan pemerintah, kemampuan perusahaan untuk mengoperasikan kapalnya, ini yang sulit,” tegasnya.
Ia memprediksi, jika pemerintah tidak memberlakukan kenaikan tarif bukan tidak mungkin setengah jumlah kapal yang tersedia di sejumlah lintasan di Indonesia akan berhenti beroperasi. Karena tidak sanggup menanggung beban BBM. Semisalnya di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk dengan jumlah 25 kapal, kemungkinan separuhnya akan berhenti operasi.
Begitu juga ia memprediksi terjadi pada lintasan Penyeberangan Pelabuhan Merak-Bakauheni. Dari 70 kapal yang tersedia, kemungkinan separuh jumlahnya akan berhenti operasi akibat tidak diberlakukannya tarif penyeberangan baru dan kenaikan BBM.
“Contoh kalau di Ketapang-Gilimanuk, kapal yang beroperasi sekarang 25, mungkin separuhnya, 12 kapal yang bergerak. Kalau di Merak (70 kapal tersedia), bisa jadi separuhnya (berhenti bergerak),” tuturnya. (Ronald/Red)

