
CILEGON, SSC – Walikota dan Wakil Walikota Cilegon, Robinsar dan Fajar Hadi Prabowo diminta dapat lebih memprioritaskan penanganan banjir. Ketimbang mendahulukan penataan wajah kota.
Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Prof Dr Swaib Amiruddin menanggapi satu tahun kepemimpinan Robinsar-Fajar.
Menurut Swaib Amiruddin, penanganan banjir harus benar-benar dilakukan Robinsar-Fajar. Karena Kota Cilegon menjadi wilayah yang kerap terjadi banjir.
Meski memang penataan wajah kota dan penanganan banjir masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Cilegon, namun kata Swaib, harus ada yang lebih diprioritaskan.
Ia menilai, penanganan banjir harus menjadi fokus utama karena menyangkut dengan hidup masyarakat.
“Kalau kita bicara opsi mana yang didahulukan, (penanganan) Yang banjir dahulu, karena itu menyangkut jiwa masyarakat,” ungkap Swaib, Senin (23/2/2026).
Swaib menyinggung persoalan banjir erat kaitan dengan resapan air yang rendah. Resapan rendah itu terjadi karena banyak lahan diperuntukan untuk lahan industri.
Dalam kondisi saat ini , kata Swaib, semestinya industri turut terlibat membantu Pemkot untuk memberikan solusi. Salah satunya mengendalikan banjir dengan membangun embung. Swaib mengungkapkan, Embung, diharapkan tidak hanya di bangun di kawasan industri tetapi juga di lingkungan masyarakat.
“Kita lihat dari kota sampai ke perbatasan Cilegon- Anyer, itu sudah lahan industri. Seharusnya industri membuat resapan air. Semacam embung lah. Embung untuk kawasan industri. Embung itu bukan hanya di kawasan industri, tetapi di perkampungan yang dibebaskan lahannya. Memang (banjir) sulit diatasi 100 persen, minimal itu bisa dibangun di sana,” ucapnya.
Swaib menilai, memang Pemkot sulit untuk melakukan pengendalian banjir sendirian. Maka dari itu Pemkot perlu melibatkan industri karena anggaran dalam mengatasi banjir, terbatas.
“Cuman memang lagi-lagi kalau banjir ini dengan program kota dan APBD terbatas, saya kira agak sulit mengatasi. Menyelesaikan banjir dengan anggaran terbatas, maka perlu mitra,” paparnya.
Swaib meminta agar Robinsar-Fajar jangan hanya terlena mempercantik kota, tetapi juga dapat mengatasi masalah pengangguran. Meski Kota Cilegon ditopang oleh banyak industri, Ia menilai, belum ada gebrakan dari Robinsar-Fajar dalam hal penyerapan tenaga kerja.
Menurutnya, industri di Cilegon harus mendahulukan masyarakat lokal dalam menyerap tenaga kerja. Sementara, Robinsar-Fajar agar program link and match harus menyediakan pelatihan dan pendidikan calon pencari kerja.
“Tenaga kerja juga jadi PR, karena Cilegon itu kalau kita lihat tingkat pengangguran masih rendah karena berada di kawasan industri. Saya lihat, walikota mungkin belum ada match antara industri dengan pemerintah kota dalam hal penyerapan tenaga kerja,” paparnya.
“Kan kita membahas, industri mendahulukan masyarkat lokal. Kalau bicara masyarakat lokal, Walikota menyiapkan pendidikan dan pelatihan untuk menyerap tenaga kerja itu. Bukan sekedar mengatasi pengangguran, tetapi menyerap anak-anak Cilegon masuk industri jangan hanya pengusaha,” sambungnya.
Robinsar dan Fajar dalam menjalankan roda pemerintahan, lanjut Swaib, keduanya dapat bekerja dengan solid. Keduanya harus harmonis mendorong birokrasi yang sehat.
Ia juga mengharapkan agar infrastruktur seperti Jalan Lingkar Selatan (JLS) dapat diperbaiki.
Selain itu di sektor ekonomi, Dosen Sosiolog Untirta ini menyatakan, Walikota Robinsar dapat membenahi pasar di Cilegon untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). “Berkaitan dengan sektor ekonomi, Pak Robinsar perlu mendorong pasar – pasar dibenahi supaya PAD bertambah. Kemudan sektor parkir, itu juga ditata dengan baik. Karena Cilegon ini agak sulit menaikan PAD-nya kalau layanan jasa tidak didorong maksimal,” pungkasnya. (Ronald/Red)




