CILEGON, SSC – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cilegon mengklaim bila kasus warga yang terlantar selama ini mengalami penurunan. Tingkat penurunan terjadi setelah Pemkot Cilegon melakukan kerjasama dengan Jejaring Pemulangan Orang Terlantar Tingkat Nasional.
Kepala Dinsos Kota Cilegon Achmad Jubaedi
membernarkan berdasrkan data yang dimiliki Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cilegon, jumlah warga terlantar yang telah dipulangkan ke daerah asal mulai Januari hingga Juni 2020 sebanyak 20 orang. Sementara pada Januari hingga Juni 2019 sebanyak 150 orang.
Selama pada 2019, pemulangan warga terlantar mencapai 99 orang. Jumlahnya menunrun dibanding tahun 2018 sebanyak 270 orang. Sementara 2017 mencapai 300 orang terlantar.
“Bila dilihat trendnya, memang untuk kasus orang terlantar yang kami (Dinsos Cilegon) mengalami penurunan setiap tahunya,” kata Jubaedi kepada Selatsunda.com di kantornya,” Senin (6/7/2020).
Masih kata Jubaedi, sebelum dipulangkan, petugas Dinas Sosial terlebih dahulu melakukan indentifikasi dan cross check warga yang terlantar. Indentifikasi dilakukan untuk memastikan apakah warga tersebut benar-benar terlantar atau hanya memanfaatkan bantuan yang diberikan oleh pemerintah.
“Warga yang terlantar ini langsung kita dampingi sebelum dipulangkan ke daerah asalnya. Warga yang terlantar ini, langsung kita tempatkan di rumah singgah milik Dinas Sosial yang berada di Cikerai, Kelurahan Cikerai, Kecamatan Cibeber hingga 7 hari. Apabila dalam 7 hari keluarga tidak warga yang terlantar tidak menghubungi Dinsos, kami tambah lagi hingga 7 hari. Apabila dalam 14 hari tidak ada kabar dari pihak keluarga, maka kami sendiri yang akan mengantarkan warga terlantar ke tersebut ke lokasi mereka tinggal,” ujar Jubaedi.
Soal anggaran penanganannya, kata Jubaedi, pihaknya menggunakan sumber dari APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kota Cilegon sebesar Rp 100 juta.
“Dari anggaran Rp 100 juta ini digunakan untuk makan dan kebutuhan sehari-hari mereka di rumah singgah. Jika di 2017, anggaran yang bersumber dari APBD diberikan dalam bentuk uang, di 2018 hingga saat ini, kita ganti dengan bentuk tiket untuk pulang warga terlantar tersebut. Dari anggaran Rp 100 juta hingga saat ini baru terserap sebesar Rp 17 juta” pungkasnya. (Ully/Red)

