CILEGON, SSC – Kasus Covid-19 di tiga kecamatan yang ada di Kota Cilegon masih terbilang tinggi meski telah diberlakukan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Ketiga kecamatan yang paling signifikan diantaranya Cibeber, Citangkil dan Jombang.
Berdasarkan peta sebaran konfirmasi Covid-19 di Kota Cilegon pada 7 Febuari 2021, Kecamatan Cibeber untuk kasus Covid-19 pasien yang masih dirawat sebanyak 70 orang, sembuh 474 orang dan meninggal 16 orang. Kedua, Kecamatan Citangkil, pasien yang dirawat sebanyak 84 orang, sembuh 581 orang dan meninggal dunia sebanyak 24 orang. Sementara Kecamatan Jombang untuk pasien sembuh sebanyak 86 orang, dirawat sebanyak 470 orang dan meninggal dunia sebanyak 23 orang.
Walikota Cilegon Edi Ariadi mengatakan, tingginya kasus di 3 Kecamatan di Kota Cilegon menjadi perhatian khusus bagi Satgas Covid-19 di Kota Cilegon. Salah satu faktor tingginya kasus kurangnya perhatian dari Satgas Covid-19 di masing-masing RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan.
“Kenapa tiga kecamatan di sana (Kecamatab Cibeber, Jombang dan Citangkil,red) tinggi? Karena perhatian dari satgas di sana masih rendah dan tidak perhatian dengan warga setempat. Jadi saya minta, satgas di RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan lebih diaktifkan lagi. Satu lagi, bagaimana kreativitas dari pimpinannya saja (kelurahan dan kecamatan) untuk kondisi tersebut,” kata Rapat Evaluasi Pelaksanaan Protokol Kesehatan Covid-19 di Aula Setda II Pemkot Cilegon, Senin (8/2/2021).
Masih kata Edi, faktor lain jumlah kasus Covid-19 naik karena kurang sadarnya masyarakat melakukan isolasi mandiri l. Padahal lokasi isolasi telah disediakan Trans Hotel.
“Maka dari itu, Trans Hotel (tempat isolasi) kita banyak yang kosong. Memang sebelumnya kita (pemerintah) memiliki kriteria khusus yang masuk ke Trans Hotel. Dari kriteria yang kami buat itu justru menambah papara covid-19 di Kota Cilegon. Akhirnya, kami mengevaluasi kembali pasien-pasien yang masuk dalan lokasi isolasi mandiri tersebut,” kata Edi.
Senada dengan Edi, Plt Kadinkes Kota Cilegon Dana Sujaksani, mengungkapkan, saat ini kencenderungan masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19 tidak mau terkekang dan masih bebas keluyuran ke luar rumah.
“Sekarang kecenderungannya begitu. Masyarakat yang positif tidak mau terkekang hidupnya mereka mau bebas. Sedangkan, di wisma kita pola hidupnya cukup teratur. Teratur olahraga, teratur berjemur. Tapi kenyatannya, mereka itu tidak mau diatur,” pungkasnya. (Ully/red)

