SERANG, SSC – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang menggelar rapat bersama dengan PT Indonesia Power (PT IP) untuk membahas pola kerjasama pengelolaan sampah yang ada di Kota Serang akibat pola kerjasama antara Pemkot Serang dengan Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) sehingga bisa sampah bersumber energi listrik,” siang tadi.
Asisten Daerah I Kota Serang, Anton Gunawan mengaku, pihaknya saat ini masih membahas pola kerjasama yang akan dijajaki antara Pemkot Serang dengan PT Indonesia Power (IP).
“Baru ekspose dengan para pimpinan PT IP. Dalam ekspose ini, pihak IP berencana akan menganti batu bara menjadi energi dari hasil sampah yang diolah langsung dengan mesin yang mereka (PT IP) bawa,” kata Anton kepada awak media usai rapat di Puspemkot Serang, Rabu (10/3/2021).
Anton tak menampik, selain IP, ada beberapa pihak lain yang bersedia untuk menjalani kerjasama dengam Pemkot Serang. Yakni, negara Cina dan Jerman.
“Ini berbeda dengan metode yang kameren (Cina atau Jerman). Indonesia Power akan menggunakan produk hasil dari pengolahan sampahnya,” jelasnya.
Diakui Anton, pola kerjasama antara PT IP dengan Pemkot Serang masih menunggu keputusan dari Walikota Serang, Syafrudin.
“Secepatnya. Kalau bisa Minggu depan ya Minggu depan. Nanti bagaimana pak Wali ya,” akunya.
Sementara itu, Kepala bidang Riset Inovasi dan Knowlage Management (RIK) PT Indonesia Power, Mochamad Soleh memaparkan, motede yang ditawarkan oleh IP dengan mengkeringkan sampah dengan menggunakan cairan biodraying. Di mana, cairan tersebut akan membuat sampah menjadi kering, menghilangkan bai dan menghilangkan air lindi.
“Setelah sampah ini kering, selanjutnya akan dilakukan pres dan nanti menjadi sebuah palet. Kemudian, sampah yang sudah padat langsung dibakar sehingga menghasilkan energi panas, nah di tangkap oleh boiler menghasilkan uap. Uap untuk memutar tupin dan menghasilkan listrik,” jelasnya.
Sementara jika menggunakan bahan baku sampah, untuk membuat 1 kalori listrik dibutuhkan 4 ton sampah dengan perbandingan 80 persen sampah organik dan 20 persen sampah anorganik. Sehingga ketika hendak membuat kalori listrik yang besar maka sampah yang akan diolah pun akan semakin banyak.
“Batu bara dari alam fluktuasi harganya. Harga energi mendekati hampir sama, antara batu bara muda atau bahan bakar sampah,” jelasnya. (MG-03/Red).

