CILEGON, SSC – Angka kematian ibu (AKI) di Kota Cilegon dalam kurun waktu dua tahun terakhir mengalami kenaikan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon Ratih Purnamasari mengatakan, jumlah AKI mulai mengalami kenaikan sejak dua tahun pertama pandemi Covid-19. AKI di Cilegon pada 2021 mencapai 21 orang. Jumlah ini naik dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 18 orang dan Tahun 2019 sebanyak 11 orang.
“Di 2021 kecamatan yang tertinggi kematian ibu berada di wilayah Kecamatan Cibeber dan di 2020 berada di Kecamatan Citangkil,” kata Ratih kepada awak media ditemui usai kegiatan Komitmen Lintas Stakeholder dan Peluncuran Program MPHD (Momentum Private Healthcare Delivery) Indonesia – Private Sector yang digelar di salah satu hotel di Kotta Cilegon, Kamis (21/4/2022).
Ia menambahkan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan AKI di Cilegon Tinggi. Diantaranya, kurangnya penanganan dari pihak keluarga merujuk ibu hamil ke rumah sakit. Kemudian penyakit saat kehamilan atau melahirkan tidak dideteksi dini. Baik itu penyakit kelainan jantung, hipertensi ataupun gejala penyakit laiinya.
“Kita sudah mengetahui bahwa ibu dengan hipertensi dalam kehamilan yang harus dirujuk. Tetapi bapaknya atau pihak keluarga lain melarang untuk dikirim. Ini kan juga faktor non-medis yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, penyelesaian tidak bisa dengan medis saja, tapi multisektoral. Baik medis maupun non-medis, banyak pihak,” tambah Ratih.
Ia menyatakan, dengan adanya sosialisasi MPHD diharapkan kemampuan tenaga medis di RSUD Cilegon dalam menangani kehamilan atau melahirkan atau dapat ditingkatkan.
“Jadi inikan salah satu kegiatan dari USAID yaitu menurunkan angka kematian ibu dan bayi, kegiatan itu momentum menurunkan AKI-AKB. Memang bentuk bantuannya bukan bantuan yang tampak mata, tapi lebih kebantuan tidak tampak mata yakni lebih kepada sistem rujukannya, kemampuan nakesnya dalam menangani persalinan karena sekitar 47 persen itu telat dalam menolong persalinan,” tandasnya.
Sementara itu, Walikota Cilegon Helldy Agustian menjelaskan program MPHD merupakan bentuk layanan kesehatan terutama terhadap Ibu dan bayi baru lahir di RSUD maupun rumah sakit swasta.
“MPHD yang berkomitmen membantu menurunkan angka kematian ibu dan bayi bertujuan untuk memperluas akses, penggunaan pelayanan berbasis data dan penggunaan informasi terkait dengan kualitas layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir disektor swasta, serta mendorong kebijakan, komitmen pemerintah dan peran pemangku kepentingan terhadap kualitas layanan untuk keterlibatan sektor swasta,” pungkasnya. (Ully/Red)

