CILEGON, SSC – Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran terkait penemuan kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya. Dalam surat edaran, Kemenkes meminta agar dukungan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan Kesehatan, SDM Kesehatan, pemangku kepentingan dan tak terkecuali Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk meningkatkan kewaspadaan.
Terkait hal ini, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Banten mulai menyiapkan langkah-langkah pencegahan dan antisipasi hepatitis akut di wilayah pelabuhan di Banten.
Kepala KKP Banten, Ongky Sedya Dwi Sasangka mengatakan, pihaknya dalam upaya pencegahan dan antisipasi hepatitis akut akan melakukan edukasi atau promosi kesehatan di pelabuhan yang ada di Banten. Salah satu yang akan dilakukan akan menggandeng asosiasi perusahaan pelayaran di Pelabuhan Merak yakni Gapasdap Merak untuk mengedukasi penumpang kapal terkait informasi penyakit hepatitis akut anak yang sampai saat ini belum diketahui penyebabnya.
“Kita akan melakukan sosialisasi ke penumpang di Pelabuhan Merak. Nanti akan saya sampaikan ke Gapasdap agar memasukan informasi di televisi di kapal. Tentu kami yakin, gapasdap menyambut positif langkah kita ini mencegah hepatitis akut. Kemudian nanti kita juga akan memasang spanduk di pelabuhan,” ujar Ongky di kantornya, Selasa (10/5/2022).
Ongky menyatakan, promosi kesehatan hepatitis akut menyasar penumpang di Pelabuhan Merak sangatlah penting dilakukan. Agar penumpang dapat cepat sadar dan melakukan pencegahan apabila menemukan gejala hepatitis akut.
Ia mengungkapkan, selain beberapa upaya tersebut peran media massa juga sangat dibutuhkan. Karena media bisa menjadi kepanjangan tangan pemerintah serta corong memberi informasi ke masyarakat dalam mencegah hepatitis akut secara dini.
“Kita mengedukasikan informasi tentang Hepatitis Akut ini ada keterbatasan juga. Tentu disini kita butuh rekan-rekan media, membantu untuk menginformasikannya,” terangnya.
Ia menjelaskan, hepatitis akut menjadi sorotan dunia sejak WHO menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) pada 15 April 2022 lalu. Organisasi Kesehatan Dunia itu melaporkan sedikitnya ditemukan 169 kasus hepatitis akut dari 12 negara. Belum lama ini, 3 anak di Indonesia meninggal dunia yang diduga akibat hepatitis akut misterius. Dengan dasar itu, Kemenkes meminta kepada seluruh KKP termasuk KKP Banten untuk meningkatkan kewaspadaan.
Sebagai perpanjangan tangan pemerintah, KKP Banten tidak hanya kepada penumpang kapal tetap juga menginformasikan kepada masyarakat luas untuk dapat mengenali gejala hepatitis akut anak misterius itu.
“Kita perlu menginformasikan gejala yang harus diketahui masyarakat. Seperti gejela awal itu mual, muntah, diare berat dan demam ringan. Disamping itu ada gejala yang agak lanjut. Diantaranya, air kencingnya berwarna pekat warnanya seperti air the, kemudian BAB-nya berwarna putih pucat, warna mata yang tadinya putih menjadi warna kuning. Kemudian kulit juga berwana kuning. Ada juga gangguan pembekuan darah, kejang dan kesadaran menurun,” bebernya.
Ongky menuturkan, jika masyarakat dalam hal ini orangtua menemukan gejala seperti itu pada anak untuk segera membawa ke rumah sakit atau puskesmas.
“Kalau ada gejala itu, langsung bawa ke rumah sakit atau puskesmas. Karena gejala kalau tidak ditangani akan mengakibatkan penyakit menjadi lebih berat,”tuturnya.
Ia menyatakan, terdapat upaya pencegahan yang perlu diketahui agar hepatisis akut tidak terjangkit pada anak. Cara pencegahan salah satunya tidak jauh berbeda dengan penerapan prokes Covid-19 yakni menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan rutin mencuci tangan dengan sabun.
“Kita kan baru saja melalui pendemi Covid, dimana PHBS adalah hal yang sangat penting. Prokes mencuci tangan dengan sabun tetap kita teruskan, ini penting,” terangnya.
Kemudian, upaya pencegahan lain yakni memastikan makanan yang dimasak dalam keadaan matang dan bersih. Selanjutnya, alat makan yang digunakan tidak bergantian dengan orang lain, hindari kontak dengan orang sakit serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. (Ronald/Red)

