CILEGON, SSC – Reses II Anggota DPRD Cilegon Masa Persidangan III Tahun 2026 telah dirampungkan dan di paripurnakan di DPRD Kota Cilegon, Jumat (16/3/2026). Dalam reses itu terdapat sejumlah permasalahan yang diserap dari masyarakat. Mulai dari permasalahan infrastruktur yang sebabkan banjir, jalan rusak, penerangan jalan umum (PJU) lingkungan minim dan fasilitas pendidikan yang belum layak.
Terkait hal ini, Wakil Ketua I DPRD Kota Cilegon, Sokhidin menyampaikan sejumlah penekanan agar diperhatikan secara serius oleh Pemkot Cilegon.
Sokhidin menyatakan, reses jangan sekadar dijadikan ajang administratif saja. Tetapi hasil reses dapat dijadikan bahan dalam penyusunan Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) 2027.
“Saya sudah menekankan kepada pemerintah, semua aspirasi masyarakat yang diserap dalam pelaksanaan reses kemarin, yang tadi itu, saya sudah menekankan, ini jangan hanya menjadi ajang administratif saja, tapi kami meminta ini bisa dijadikan perencanaan pembangunan untuk 2027 dalam penyusunan RKPD,” ujar Sokhidin usai paripurna.
“Makanya saya minta hasil aspirasi reses itu, ini dapat dijadikan arah pembangunan RKPD di 2027,” sambungnya.
Pihaknya dalam menindak lanjuti hasil reses tersebut, kata Sokhidin, akan segera melakukan rapat kajian bersama Pemkot Cilegon. Kajian itu untuk memastikan hasil reses masuk dalam program pembangunan Kota Cilegon.
“Untuk lebih mendalami hal tersebut, insya Allah di 25 Maret, kita akan melaksanakan rapat kajian bersama-sama dengan pemerintah, membahas aspirasi masyarakat dalam reses kemarin,” tuturnya.
Sokhidin menyinggung satu persatu aspirasi terkait permasalahan dikeluhkan masyarakat.
Pertama menyangkut permasalahan infrastruktur yang menyebabkan banjir. Menurutnya, saat ini, Pemkot Cilegon perlu melakukan pembenahan infrastruktur kaitan dengan saluran atau drainase. Hal itu perlu segera agar banjir tidak berulang.
“Saat ini yang kita perlukan pembenahan infrastruktur akibat banjir. Misalnya saluran yang mampet, yang tidak kuat menampung deras air, itu meluap ke pemukiman, itu yang cepat dibenahi,” terangnya.
Ia menyatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan banjir. Selain memang intensitas hujan tinggi, faktor banjir disebabkan karena serapan air yang rendah akibat maraknya galian C. Resapan air yang tergerus oleh galian, kata Sokhidin, mengakibatkan air hujan tun membawa lumpur dan pasir. Sehingga saluran atau drainase mengalami pendangkalan lalu menyebabkan banjir air hujan meluap.
“Pertama curah hujan saat ini cukup tinggi, banyaknya galian mengakibatkan air yang turun membaawa lumpur dan pasir, sehingga saluran terjadi pendangkalan. Air tidak dapat terserap dan meluap ke masyarakat,” paparnya.
Ia pun meminta agar Pemkot dapat fokus melakukan perbaikan infrastruktur. Sementara permasalahan aktivitas pertambangan, diserahkan kepada Pemkot karena yang marak berada di wilayah Kabupaten Serang.
“Kita, Cilegon berfokus kepada perbaikan infrastruktur, saluran air bila perlu pendalaman dan pelebaran. Untuk urusan tambang pasir kita serahkan ke pemerintah, karean itu masih wilayahnya Kabupaten Serang. Makanya saya harapkan forkompimda, kita koordinasi untuk cepat menangani ini,” pungkas Sokhidin seraya menyinggung terdapat juga ditemukan sarana pendidikan yang belum memadai dan perlu ditindaklanjuti serta PJU yang minim. (Ronald/Red)





