CILEGON, SSC – Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Banten memperketat pengawasan terhadap hewan yang dilalulintaskan dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa atau sebaliknya menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.
Kepala Satuan Pelayanan Merak Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Banten, Melani Wahyu Adiningsih mengatakan, pihaknya telah melakukan persiapan dalam mengawasi lalu lintas hewan jelang Idul Adha. Karena biasanya jumlah hewan yang dilalu lintaskan mengalami peningkatan.
“Jadi sebetulnya kegiatan tindakan karantina atau pemeriksaan hewan kurban merupakan tugas sehari hari. Jadi persiapan kita lebih ke peningkatan pengawasan, Karena memang lalu lintas mejelang Idul Adha meningkat,” ungkapnya, Selasa (26/5/2026).
Melani menyatakan, berdasarkan data BEST TRUST (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology), lalulintas hewan ruminansia yang melewati Pelabuhan Penyeberangan Merak pada Idul Adha ini mengalami kenaikan. Rata-rata pada hari biasa, hewan yang dilalu lintaskan perbulannya sebanyak 670 frekuensi atau kurang lebih sebanyak 11.900 ekor. Namun pada Idul Adha ini meningkat sangat signifikan. Lalu lintas hewan itu puncaknya naik signifikan pada bulan April.
“Tetapi mendekati Hari Raya Idul Adha rata-rata perbulannya mengalami kenaikan yang signifikan menjadi 1.500 frekuensi dennga volume 31.000 ekor jadi kenaikannya sebesar 260 persen,” ucapnya.
Dari seluruh hewan yang dilalulintaskan saat Idul Adha, mayoritas hewan sapi.
“Dari hewan tersebut mayoritas yang dilalu lintaskan adalah sapi sebanyak 85 persen,” terangnya.
Melani mengungkapkan, pihaknya agar hewan yang dikonsumsi masyarakat sehat dan tehindar dari penyakit melakukan pengawasan ketat. Penghawasan itu dijalankan berdasarkan Surat Keputusan dari Kepala Badan Karantina Indonesia Satgas Pengawasan dan Pemantauan Lalu Lintas Hewan Kruban 2026.
Untuk meningkatkan pengawasan, kata Melani, Barantin Banten juga melakukan kerja sama dengan Dinas Pertanian Provinsi Banten melakukan operasi gabungan.
“Penyakit yang diwaspadai terhadap hewan ruminansia, yang penting penyakit mulut dan kuku, Lumpy Skin Disease (LSD), Anthrak dan juga Bruselosi,” pungkasnya. (Ronald/Red)





