20.1 C
New York
Kamis, April 23, 2026
BerandaPeristiwaCerita Keluarga Korban Tsunami Asal Cilegon, Dari Panik Hingga Tanggung Biaya Pengobatan...

Cerita Keluarga Korban Tsunami Asal Cilegon, Dari Panik Hingga Tanggung Biaya Pengobatan di RSKM

-

CILEGON, SSC – Begitu berat kondisi yang dipikul oleh Sulastri (36), saat mengetahui anaknya, Nafis Umaam (8) menjadi korban Tsunami Selat Sunda saat berlibur di Villa Mutiara pada Sabtu, 22 Desember 2018 lalu.

Ia begitu panik mengurus perawatan anaknya yang dirujuk dari Rumah Sakit Berkah Pandeglang ke Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon. Sata tiba di IGD RSKM, ia tak berpikir panjang langsung menyampaikan ke petugas medis bila anaknya menjadi korban tsunami.

“Saya di rumah sakit itu (Minggu, 23/12) sekitar jam 14.00 WIB-an. Pas saya turun biasa di depan IGD kan, saya turun, ditanyain. saya ngomong, pak anak saya korban tsunami juga, baru dirujuk dari RS Berkah Pandeglang. Ini saya mau ngurus, katanya sie suruh nyari kamar dulu dari RS berkahnya katanya gitu kan. Ya udah bu, tunggu aja, tunggu pasien datang,” ujarnya, Minggu (6/1/2019).

“Karena rasanya panik sambil nunggu, gimana ya, gitu tuh. Ya nunggu sampai anak datangkan, kira-kira jam 18.00 kurang seperempat, sudah mau magrib baru anak saya datang,” paparnya.

Sebelum anaknya tiba, ia bercerita, pihak RSKM masih belum mencatat bila anaknya menjadi korban Tsunami. Ibu dari korban yang berasal dari Lingkungan Ramanuju Tegal, RT 01 RW 11, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil ini kemudian tidak mau berpikir panjang dan hanya ingin agar anaknya ditangani medis terlebih dahulu.

“Itu (RSKM) belum di catat, karena pasien belum datang. Saya nggak lihat lagi, karena saya di dalam. Saya minta ke dokter jaganya, kata saya, Dok kalau bisa saya minta di rontjen, minta di scanning. Soalnya kalau kepala kan ini, takutnya, yang paling ditangani pertama kan kepala. Ngeri gitu kan,” ceritanya.

“Kalau dokter – dokter di dalam sih nggak ada yang tanya. Tapi pas perawat, ini gimana kejadiannya. Saya udah nggak mikirin, anak ditanggung apa nggak. Ya udah lah, karena pikirinya mau bayar saja gitu,” paparnya.

Setelah dilakukan tindakan terhadap anaknya, kata Sulastri, pihak RS langsung mengarahkan untuk mengurus administrasi. Satupun dari pihak RS tidak ada yang menjelaskan bila penanganan korban tsunami tidak dipungut biaya. Ia dan kerabat kemudian pasrah untuk menempati perawatan anaknya di kamar kelas II.

“Ngga ada pemberitahuan (biaya korban tsunami gratis) seperti itu, nggak ada. Bablas aja. Pas mau tindakan operasi pun masih diminta deposit lagi. Pokoknya kwitansi kemarin itu kan, sudah dikumpulin, di polres itu,” tandasnya.

“Pas Nafis ditangani lengan sebelah kanannya, empat jahitan itu. Saya inget saat itu ditunggu pak de, yang jualan bubur ayam itu. Keluarga nafis (dipanggil pihak RS), ini bu, mau ruang perawatan kelas berapa, katanya begitu, pikir saya kelas II saja lah. Istilahnya, mungkin terjangkau lah ya,” paparnya yang saat itu pasrah dengan keadaan anaknya.

Saat para kerabat berkunjung, kata Sulasti, dirinya sering diyakinkan bila perawatan Nafis tergolong gratis karena menjadi korban tsunami. Ia tetap pasrah sekalipun satupun dari perwakilan pemerintah tidak sama sekali menjenguk bahkan membantu pengurusan administrasi anaknya yang menjadi korban tsunami.

“Banyak orang juga ngomong, bu, ini kan korban bencana, gratis. Ya udah lah, Saya iya saja. Isitilahnya yang datang ke saya ini, nggak ada. Dari pemerintah juga nggak ada,” urainya.

Saat anaknya pulih dan dinyatakan dapat pulang, Ia dan pihak keluarga berusaha memohon ke pihak rumah sakit dapat membantu meringankan biaya perawatan anaknya sampai menunjukan surat rujukan dari Rumah Sakit Berkah Pandeglang. Namun upaya itu sia-sia dan biaya tidak digratiskan.

“Saya sudah kasih, surat rujukannya dari RS berkah pandeglang. Di bagian kasirnya, Pak Elias kata kakak saya, Ada (bukti rujukan) disana. Cuman karena kemarin mau pulang itu kan, kakak saya kasih tahu kalau ini korban. Maksud saya, kalau memang bayar ya bayar, nggak apa-apa gitu. Cuman ada keringannya nggak?. Keringannnya cuman dari BPJS saja,” ujarnya.

Pihak RSKM sebelumnya sempat menyebut bila anaknya dirawat di Kelas VIP. Namun Sulastri membantahnya. Dari bukti adminstrasi medis, sambungnya, perawatan anaknya justru di kelas II.

“Sama sekali nggak ada (Nafis dirawat di VIP), demi Allah. Sama sekali tidak, dari kwitansi kan ada, kelas II. Apa mungkin bukan saya kali. Saya sama sekali nggak ada, demi Allah,” ungkapnya.

“Kenyataannya Anak saya di melati 14, di kelas II, bukan di VIP. Orang-orang yang besuk disitu kan selalu penuh. Nggak ada istilahnya kosong. Jadi kadang-kadang orang yang jenguk itu, fokusnya ke anak saya. Ini (anaknya Nafis) kenapa gitu (dirawat),” pungkasnya. (Ronald/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini