Ilustrasi buruh melakukan aksi unjuk rasa (Foto Dok Selatsunda.com)

CILEGON, SSC – Ribuan buruh se-Kota Cilegon akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cilegon, Kamis (8/10/2020), Besok.

Aksi dilakukan sebagai bentuk penolakan para buruh terhadap pengesahan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja.

Kepala Federasi Serikat Pekerja Kimia Energy Pertambangan dan Umum (FSKEP) Kota Cilegon, Rudi Sahrudin rencananya ribuan buruh akan bertolak di masing-masing titik menuju Kantor DPRD Cilegon.

“Total ribuan buruh sudah kami kerahkan untuk aksi ini. Kami (buruh) minta agar Walikota dan DPRD Cilegon mendukung buru untuk menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja,” kata Rudi dikonfirmasi,” Rabu (7/10/2020).

Baca juga  2 Pegawai Pengadilan Agama Serang Positif Covid-19, Persidangan Ditutup Sementara

Sebagai wakil rakyat, lanjut Rudi, tentu harus berpihak kepada nasib buruh. Bukan untuk menyusahkan penderitaan para buruh.

“Mereka ini dipilih rakyat. Semestinya tidak menyengsarakan rakyat. Jika ada butuhnya mereka (DPRD) mencari rakyat tapi justru memberikan penderitaan kepada rakyat,” tegas Rudi.

Rudi menjelaskan, aksi mogok ini dilakukan hingga tingkat nasional. Buruh yang tersebar di daerah akan setop produksi dari jam 06.00-18.00 WIB di lingkungan pabrik masing-masing.

“Laporan dari aliansi serikat buruh di daerah-daerah, sekitar 2 juta buruh setop produksi dari jam 06.00-18.00 WIB di lingkungan pabrik masing masing sesuai UU No. 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum,” jelas Rudi.

Baca juga  2 Pegawai Pengadilan Agama Serang Positif Covid-19, Persidangan Ditutup Sementara

Rudi memastikan dalam demo tersebut tidak ada penyusup dari mana pun yang memanfaatkan aksi ini. Karena masing-masing PUK telah memiliki ketua organiasi sendiri.

“Kalau diluar dari buruh yang ikut dalam aksi ini saya menjamin tidak jaminan apapun dari saya. Yang kami bantu dan tolong mereka yang berstatus buruh bukan mahasiswa, pedagang maupun apapun juga,” pungkasnya. (Ully/Red)