Petugas di salah satu Pondok Pesantren di Kediri, Jawa Timur melakukan pengrcekan suhu tubuh menjalankan protokol Covid-19, Belum lama ini. Foto Istimewa

JAKARTA, SSC – Pondok Pesantren diharapkan dapat mengantisipasi penyebaran Covid-19 dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Hal ini dilakukan mengingat Kementerian Agama telah mengizinkan 8.085 pesantren untuk beroperasi kembali.

Ketua DPP LDII, Chriswanto Santoso dalam kegiatan webinar dengan tema “Menjadi Pondok Pesantren Sehat pada Era Pandemi Covid-19 menuturkan, pada dasarnya dalam mengantisipasi Covid-19, sistem pendidikan pada pondok pesantren harus disesuaikan. Karena sistem pada ponpes tidak sama dengan sekolah umum. Menurutnya, pendidikan pada ponpes harus ada interaksi bersama antara kyai dan santri, santri dan santri, atau pembimbingnya.

“Karakter pondok itu yang menjadi tantangan bagi pondok menghadapi pandemi covid-19,” ujar Chriswanto, Belum lama ini.

Ia juga mengungkapkan, tantangan lain untuk pondok pesantren menghadapi covid-19 juga perlu memperhatikan karakter pengajarannnya. Ponpes tidak hanya mengajarkan ilmu kauniyah saja, namun juga merupakan tempat pembinaan karakter dan mental dengan penerapan pada kehidupan sehari-hari.

Baca juga  Tak Serahkan PSU, Pengembang Perumahan di Kota Serang Terancam Sanksi Pidana

Ia menuturkan, pembinaan SDM umat Islam di pesantren-pesantren seperti ini jangan sampai terhenti karena Covid-19.

“Ini yang perlu diantisipasi agar kegiatan belajar mengajar terus berjalan. Umat Islam harus menemukan cara agar kegiatan ponpes terus berjalan. Dan para kyai, guru, dan para santri bisa terus belajar dengan aman, nyaman, dan terjaga kesehatannya,” katanya.

Chriswanto berharap, melalui webinar yang dihelat DPP LDII dapat memunculkan langkah-langkah yang bisa diadopsi untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus Covid-19, pada pondok pesantren di seluruh tanah air.

“Panduan-panduan yang dikemukakan oleh para narasumber agar menjadi evaluasi dan dijadikan solusi terbaik bagi pengelola pondok, pengurus, serta pembimbing santri untuk mewujudkan pondok pesantren yang sehat bagi santri,” tuturnya.

Sementara, Kasubdit Pendidikan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengatakan, meski dizinkan beroperasi kembali namun ponpes tetap menghadapi masa adaptasi dan penyesuaian pola hidup pada masa pandemi covid-19. Pelaksanaan program tersebut, kata dia, tentunya menyesuaikan situasi dan kondisi yang terjadi di setiap pondok pesantren.

Baca juga  Diduga Rem Blong, Truk Pengangkut Cairan Kimia Terguling di SPBU Grogol

“Ponpes secara internal bekerjasama dengan aparat kesehatan dan gugus tugas covid-19 disekitarnya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, acara tersebut diikuti oleh 337 pribadi dan lembaga yang mewakili pondok pesantren, pondok pesantren pelajar dan mahasiswa (PPPM), boarding school, Satgas Covid-19 LDII, serta beberapa Satuan Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Peserta tersebar di Indonesia hingga mancanegara.

Dalam webinar turut hadir Kepala Bidang Pencegahan, Mitigasi, dan Kesiapsiagaan, Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Ina Agustina Isturini, Ketua Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama yang juga staf khusus Presiden bidang Keagamaan, Abdul Ghafar Rozin dan Dani Pramudya, Satgas Covid-19 LDII selaku Koordinator Tim Kesehatan Ponpes Minhajurrosyidin dan Peneliti Pandemi, Griffith, University Australia, Dicky Budiman dengan moderator Redaktur Republika Online (ROL) Nashih Nasrullah. (Ronald/Red)