Polda Banten menggelar ekspos perkara di Mapolda Banten terkait kasus penyelundupan sabu di Lapas, Jumat (16/5/2022). Foto Ronald/Selatsunda.com

SERANG, SSC – Direktorat Reserse Narkoba Polda Banten menetapkan dua tersangka kasus dugaan penyelundupan sabu di Lapas Kota Cilegon dengan modus disimpan di dalam charger handphone. Dua tersangka itu berinisial KT (39) dan DL (39) yang merupakan narapidana Lapas Kota Cilegon.

Diketahui sebelumnya, kasus tersebut terbongkar saat seorang pria yang mengaku pegawai Kejaksaan Negeri Cilegon kedapatan membawa sabu ke dalam lapas pada Selasa (17/5/2022). Pegawai itu mengaku hendak menyiapkan sidang online tahanan. Kemudian pegawai digeledah petugas jaga dan didapati kristal putih diduga sabu disimpan di dalam charger handpone.

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Shinto Silitonga mengatakan, pihaknya memang awalnya atas laporan yang diterima dari Lapas Cilegon mengamankan DL dan dua pegawai Kejaksaan Negeri Cilegon, IW dan SD (pemberitaan sebelumnya ditulis DRM). Ketiganya dicurigai hendak menyelundupkan sabu lewat charger handphone.

Setelah dilakukan serangkaian penyelidikan, SD yang berstatus narapidana ditetapkan tersangka. Pada kasus tersebut juga menyeret narapidana lainnya, KT sebagai tersangka.

“Jadi tersangka ada 2 orang, yaitu DL dan KT.  Keduanya adalah warga binaan, bukan pegawai pada kantor-kantor pemerintahan,” ujarnya saat ekspor perkara di Mapolda Banten yang turut dihadiri Wadirresnarkoba Polda Banten, AKBP Niko Andreano Setiawan, Kalapas Cilegon, Sudirman Jaya dan Kajari Cilegon, Ineke Indraswati, Jumat (20/5/2022).

Baca juga  Cabuli Anak Pacar Sendiri, Pria di Cilegon Dibekuk Polisi

Shinto memaparkan, rekam jejak kedua tersangka. Tersangka KT ditangkap oleh Bareskrim Polri pada 2019 di Serang Banten dengan barang bukti 900 gram sabu-sabu. KT pada 13 Februari 2020 divonis 12 tahun penjara. Sementara, DL ditangkap Polres Cilegon pada 2021 dengan barang bukti sabu 0,3 gram. Pada Maret 2022, DL divonis 18 bulan penjara.

Shinto kemudian menjelaskan kronologis sabu yang hendak diselundupkan kedua tersangka ke dalam Lapas Cilegon.

Awalnya pada Minggu 15 Mei 2022, sabu seberat 5 gram dipesan oleh DL dari KT dengan nilai transaksi Rp 4,5 juta. Kedua tersangka kemudian sepakat.

Sehari kemudian, kata Shinto, ada seseorang yang merupakan jaringan DL menelpon pegawai Kejari Cilegon, SN. Orang itu hendak menitipkan barang titipan DL berupa charger handphone.  Kepada orang itu, SN meminta untuk menitipkannya di sekuriti kantor karena hari libur.

“Ada yang menelpon saudara SD yang adalah pegawai pada Kantor Kejaksaan Negeri Cilegon. Yang bersangkutan, SD bukan jaksa. Dalam telepon itu disampaikan, pak ada barang titipan saudara DL kami harus antar kemana?. Disampaikan demikian. Maka saudara SD mengatakan, hari ini hari libur, tolong dimasukan saja ke penjagaan/sekuriti Kantor Kejari Cilegon,” ucap Shinto.

Baca juga  Lapas Cilegon Bangun Blok Hunian Baru Tampung Narapidana Beresiko Tinggi

“Jadi tidak ada komunikasi langsung per telepon antar DL dengan SD untuk menerima titipan barang berupa charger handphone tersebut. Tapi DL telah menggunakan orang luar untuk berkomunikasi dan orang luar ini lah yang menelepon saudara SD,” tambahnya.

Pada Selasa, 17 Mei 2022, pegawai honorer Kejari, IW atas permintaan SD diminta membawa barang titipan itu ke Lapas untuk disampaikan ke tersangka DL. Di mana saat bersamaan SD dan IW tengah bertugas menyiapkan sidang online untuk tahanan.

Penyidik saat membongkar kasus tersebut, kata Shionto, baik IW dan SD yang merupakan pegawai Kejari Cilegon sama sekali tidak mengetahui isi barang yang ada di dalam charger tersebut. Mereka hanya berniat mengantar charger handphone. Sehingga disimpulkan tidak ada niat jahat kedua pegawai Kejari tersebut.

“Sehingga kami simpulkan, tidak terdapat mens rea, niat jahat untuk berkomplot besama-sama dengan saudara DL memasukan barang itu. Maka SD dan IW bukanlah jaringan yang membawa masuk narkoba ke dalam lapas,” terangnya. (Ronald/Red)