20.1 C
New York
Selasa, Mei 26, 2026
BerandaPeristiwaMinyak Goreng Langka, Begini Jurus 'Kepret' Rizal Ramli

Minyak Goreng Langka, Begini Jurus ‘Kepret’ Rizal Ramli

-

SERANG, SSC – Permasalahan minyak goreng yang mahal dan langka masih terjadi dimana-mana. Kebijakan pemerintah salah satunya dengan menetapkan harga minyak satu harga juga belum memberi solusi. Faktanya di berbagai daerah minyak goreng makin sulit didapatkan dan terjadi kelangkaan.

Mengenai hal itu, Ekonom Senior, Rizal Ramli mengkritik pedas kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini. Ia sebelumnya sempat menyebut Kementerian Perdagangan asal bertutur terkait kelangkaan minyak goreng. Menurutnya, alasan Kemendag yang mencurigai kelangkaan minyak goreng terjadi karena banyak warga yang menyetok di rumah adalah alasan yang tidak masuk akal. Kemudian Rizal juga menyinggung soal pernyataan Menteri Perdagangan, Lutfi terkait tingginya harga kedelai disebabkan karena permintaan kedelai untuk pakan babi di China meningkat.

“Itu lelucon yang tidak lucu. Menteri Perdagangan ini saya pernah sebut menteri asal nyeplak. Karena kasih alasan-alasan yang tidak benar dan tidak masuk akal. Misalnya dia katakan, kita kesulitan kedelai karena ada babi 5 miliar dari China makan kedelai. Padahal babi di China hanya 402 juta,” ujar Rizal usai
menghadiri acara silaturahmi bersama bersama tokoh masyarakat, ulama, dan UMKM di Pesantren Bani Abdul Hanan di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Sabtu (3/3/2022).

Rizal juga mengaku miris dengan adanya penjelasan Mendag tentang penimbunan minyak goreng dilakukan oleh rakyat. Menurutnya penjelasan itu kejam karena mayoritas masyarakat tidak dapat mungkin melakukan hal itu dengan pendapatan hariannya.

“Habis itu menteri asal nyeplak ini memberi penjelasan bahwa yang nimbun minyak goreng  itu adalah rakyat. Ini sadis banget. Karena rakyat kita mayoritas, pendapatannya harian, nggak mungkin dia bisa nimbun banyak banget,” terangnya.

Menurut Rizal, solusi untuk mengatasi masalah minyak goreng sangatlah sederhana. Ia mengaku saat menjabat Menko Perekonomian di era Presiden RI Keempat, Abdurrahman Wahid pernah terjadi hal yang sama. Kala itu saat harga sawit naik 100 persen, kata dia, pengusaha ingin ambil untung berlebih dengan cara mengambil jatah dalam negeri dan melakukan ekspor.

Ia bersama para menteri kemudian memanggil para ‘raja’ sawit. Kepada para pengusaha diperingatkan jangan cari untung berlebihan dengan mensetop pasokan dalam negeri.

Ia juga menyampaikan agar pengusaha ingat kepada negara. Karena sawit  ditanam dilahan negara. Kemudian pengusaha juga telah dimudahkan dengan bunga kredit rendah yang diberikan pemerintah.

“Yang kedua, jangan lupa kacang sama kulitnya. Karena kalian kan tanam sawitnya ditanah negara. Watu rame nanam kebon sawit, itu dikasih subsidi bunga murah dari Bank Indonesia, hanya 2 persen setahun. Kredit UKM saja 12 persen,” terangnya.

Jika pengusaha telah diperingatkan dan masih mengabaikannya maka baru diambil langkah tegas. Namun yang terjadi kala itu, harga minyak goreng turun.

“Jadi saya mah sederhana waktu itu, kalau  sebulan tidak turun harga minyak goreng, gue periksa semua pajaknya. Kalau ada yang ga beres, gue tangkap. Tiga minggu turun tuh,” ungkapnya. (Ronald/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen
- Advertisment -DEWAN 2