Polres Cilegon mengungkap Kasus Pemalsuan Surat Jalan atau Surat Keterangan dalam rangka perjalanan mudik saat di Mapolres, Jumat (28/5/2021). Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Seorang calo berinisial P benar-benar nekad menjalankan aksinya. Pelaku ditangkap polisi karena memanfaatkan kesempatan disaat larangan mudik Lebaran pada 6-17 Mei 2021 diberlakukan. Disaat momentum itu, pelaku diduga menyediakan surat sakit palsu untuk penumpang yang hendak menyeberang di Pelabuhan Merak.

Kapolres Cilegon, AKBP Sigit Haryono mengatakan, kasus pemalsuan surat sakit tersebut awalnya terungkap dari laporan masyarakat. Laporan tersebut kemudian diselidiki satgas Operasi Ketupat Maung 2021.

Pada 15 Mei 2021, satgas mengendus kejahatan itu dilakukan di Pelabuhan Merak ditengah upaya penyekatan kendaraan penumpang. Saat itu, 4 terduga calo yang bertransaksi surat sakit palsu diamankan satgas. Berdasarkan alat bukti, satgas kemudian melakukan pengembangan dan menetapkan P sebagai terduga pelaku.

Baca juga  Mobilitas Kerja Tinggi, Anggota Dewan di Cilegon Berpotensi Terserang Penyakit Jantung dan Kolesterol

Kata Kapolres, Pelaku P awalnya dalam menjalankan aksi membantu seorang penumpang untuk menyeberang di Pelabuhan Merak dengan cara resmi. Dokumen surat sakit menjenguk orangtua dari penumpang itu yang menjadi persyaratan menyeberang disaat larangan mudik kemudian oleh pelaku difotokopi. Surat izin yang difotokopi digandakan dan diubah untuk penumpang lain yang tidak berdokumen lengkap.

“P ini sebelumnya, membantu seseorang untuk menyeberang dengan surat resmi. Surat sakit itu di fotokopi. Setelah menyeberang, itu di fotokopi. Surat sakit itu dirubah isinya dengan nama (penumpang lain) yang tidak berdokumen,” ujar Kapolres saat pengungkapan Kasus Pemalsuan Surat Jalan atau Surat Keterangan dalam rangka perjalanan mudik di Mapolres, Jumat (28/5/2021).

Baca juga  Cuaca Buruk Sebabkan Bongkar Muat Kapal di Pelabuhan Merak Tak Sesuai Jadwal

Pelaku dalam bertransaksi surat sakit palsu dengan penumpang berikutnya berpura-pura memberi bantuan. Kala penumpang terlihat mengalami kesulitan menyeberang, pelaku menghampiri dan kemudian menawarkan jasanya. Setiap transaksi, pelaku meraup keuntungan Rp 200 ribu.

“Surat sakit itu dirubah namanya untuk menyeberang dengan imbalan 200 ribu rupiah,” bebernya.

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan
Pasal 263 ayat 1 Undang-undang KUHP dengan ancaman 6 tahun penjara. (Ronald/Red)