CILEGON, SSC – Tim Panita Seleksi (Pansel) JPT Pratama mutasi rotasi Eselon II, Syaeful Bahri mengungkap ada 3 aspek penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan 29 pejabat eselon II yang mengikuti kompetensi rotasi mutasi pejabat eselon II. Diantaranya menguji kompetensi manajerial, kompentensi teknis dan kompetensi sosial kultural.
“Banyak yah indikatornya, kalau saya di teknis poinnya sekurang-kurangnya ada tiga, yaitu mampu menjelaskan identifikasi masalah, pasti ada masalah di dinas itu, kalau dia tidak menjelaskan itu bagi saya TMS,” kata Syaeful kepada awak media ditemui tes wawancara yang digelar di Kantor BKSDM Kota Cilegon,” Senin (15/9/2025).
Saeful menambahkan, 10 pejabat eselon II telah menjalani uji kompetensi sebenarnya memiliki kemampuan mengartikulasikan ide dan solusi sangat menentukan kualitas seorang pejabat, karena ide gagasan dari pejabat harus bisa dimengerti atasan dan bisa diterjemahkan oleh bawahan.
“Kalau itu gak bunyi (menyampaikan ide) bagaimana. Saya kalau jadi walikotanya saya gak butuh orang kaya gini. Bagaimana caranya semua pejabat eselon II ini jadi kepanjangan tangan kepala daerah,” tambahnya.
Ia menegaskan, penilaian dilakukan secara objektif sesuai indikator yang telah ditentukan.
“Tugas dan fungsinya yang bersangkutan itu harusnya paham, harusnya punya kemampuan mengidentifikasi problem hari ini di jabatan dia,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seorang pejabat bukan hanya sekadar menduduki jabatan, melainkan harus mampu melahirkan konsep dan solusi.
“Dia kan pimpinan, harus punya konsep harus punya solusi,” tegasnya.
Ia mengakui ada beberapa pejabat yang sebenarnya memiliki rekam jejak dan karya yang baik namun tidak bisa mengungkapkannya dengan baik dalam sesi asesmen.
“Yang bersangkutan di lapangan umpanya memiliki kemampuan, tapi yang bersangkutan tidak mendemonstrasikan, misalnya dia di era Robinsar-Fajar ini memiliki karya-karya tapi tidak diceritakan kepada saya, yah tidak bisa disalahin dong,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai kualitas 10 pejabat terkait ide dan gagasan dalam memimpin OPD, Saeful memberikan perumpamaan menarik.
“Ya tentu saja kan, seperti paduan suara kan, ada yang suaranya nyaring, ada yang lemot-lemot, itu sudah rahasia umum,” katanya.
Namun, ia menegaskan bahwa asesmen ini bukan sekadar ajang unjuk suara, melainkan ruang untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinan.
“Intinya ini bukan paduan suara, ada yang luar biasa presentasinya, menguasai, konsepnya oke dia mampu mengidentifikasi masalah, solusinya ini,” tegas Saeful.
Kata Saeful, semua hasil penilaian yang dilakukan oleh Pansel harus dihormati.
“Apapun nilai dan skor yang dikeluarkan oleh Pansel ya kita hormati,” pungkasnya. (Ully/Red)

