CILEGON, SSC – Walikota Cilegon, Robinsar mengambil langkah strategis untuk menjaga perimbangan APBD Perubahan 2025. Orang nomor satu di Kota Cilegon itu tak ingin APBD Perubahan 2025 mengalami defisit seperti yang terjadi pada 2024.
Untuk menjaga keuangan daerah, Robinsar mengaku akan melakukan rasionalisasi belanja daerah hingga Rp 124 miliar.
“Tahun ini di perubahan kami mengusahakan dengan anggota dewan untuk di Perubahan ini, kita akan lakukan langkah yang konkret, supaya Cilegon terhindar dari defisit anggaran seperti tahun lalu,” ujar Robinsar, Belum lama ini ditulis Selatsunda.com, Senin (15/9/2025).
“Makanya langkah konkret kami merasionalkan, mengefisiensikan anggaran dikurangi sebanyak 124 miliar,” sambungnya.
Ia khawatir jika langkah rasionalisasi tidak dilakukan maka kondisi keuangan daerah bisa terjadi seperti tahun lalu.
Dari data yang di analisa dalam tiga tahun terakhir, kata Robinsar, penyerapan anggaran baik belanja daerah maupun pendapatan daerah, memiliki pola yang tidak jauh berbeda. Untuk mengerek pendapatan daerah dan efisiensi belanja, perlu ada langkah konkret.
Langkah rasionalisasi itu, kata Robinsar juga sejalan dengan hasil evaluasi Gubernur Banten atas RAPBD Perubahan 2025 Kota Cilegon.
“Karena kami khawatir di tahun ini terjadi. Karena kami lihat, di periode yang sama, kami amati, pola kurang lebih sama, pola belanja, pola pendapatan sama. Makanya kami melihat perlu ada langkah konkret, langkah pasti agar tidak terjadi defisit tahun ini. Maka kami memutuskan supaya tahun ini, akan memotong Rp 124 miliar. Itu rekomendasi oleh Gubernur juga dan kami samakan dengan persepsi kami,” ucapnya.
Menurut Robinsar, rasionalisasi itu mengacu pada perimbangan anggaran. Belanja-belanja yang dinilai tidak penting dirasionalisasi. Sementara pendapatan yang ditarget tinggi namun tidak rasional, diturunkan. Jika ada pendapatan asli daerah (PAD) yang memiliki potensi tinggi maka harus ditingkatkan.
Menurut Robinsar, target PAD di era pemerintahannya harus benar-benar dihitung secara realistis dengan kondisi yang ada dan dengan dasar-dasar dan metode yang jelas.
“Kita lihat realisiasi pendapatan itu jadi patokan kami, itu menjadi acuan. Kalau kita bicara rasionalisasi, kan tidak melulu perihal yang kenaikan. Tidak juga melulu mengurangi anggaran. Tapi kalau bicara rasional, target yang memang tinggi kita turunkan dan yang punya potensi untuk kita naikkan, itu akan kita naikkan,” terangnya.
“Pola pola itu, pengurangan dan kenaikan, itu yang menjadi landasan sumber pendapatan yang riil. Kami tidak lagi bicara asumsi, sekalipun asumsi, harus ada dasar teknis yang jelas, tidak mengawang-ngawang, nggak ada dasarnya,” sambungnya.
Robinsar menyinggung belanja daerah yang akan dirasionalisasi. Belanja untuk kegiatan pelayanan dasar terutama di sektor pendidikan dan kesehatan tidak akan dipangkas.
Kegiatan yang dipangkas, kata dia, kegiatan fisik yang belum begitu dibutuhkan tahun ini. Serta kegiatan yang bukan masuk dalam janji kampanye Robinsar-Fajar. Kegiatan lain yang dipangkas termasuk juga kegiatan seremonial.
“Untuk pelayanan dasar tidak ada (pemangkasan), untuk pendidikan kesehatan tidak ada. Tetapi yang sifatnya fisik yang bisa ditunda tahun depan, itu mungkin yang kita lakukan tahun depan. Kemudian, kegiatan pembangunan fisik yang tidak urgent dan tidak masuk dalam janji kampanye kami, itu kita rasionalkan,” ujarnya.
“Kalau seremoni, iya. Insya Allah sudah kita kurang-kurangi,” ucapnya.
Robinsar menegaskan, langkah rasionalisasi ini demi pemulihan keuangan daerah Kota Cilegon. Agar Tahun 2026, Pemkot Cilegon dapat lebih bekerja secara optimal.
“Ini dalam rangka pemulihan keuangan daerah, kami mengambil langkah tersebut. Agar tahun depan kita bisa berlari dengan maksimal,” harapnya. (Ronald/Red)

