Pemerintah Antisipasi Dua Isu Angkutan Nataru 2026 di Penyeberangan Banten, Salah Satunya Potensi Cuaca Ekstrem

0
231

CILEGON, SSC – Dalam menghadapi Angkutan Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Pemerintah telah mempersiapkan langkah dalam mengantisipasi dua isu utama terkait penyeberangan yang ada di Banten. Dua isu itu yakni adanya prediksi peningkatan penumpang dan mewaspadai potensi cuaca ekstrem.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Irjen Pol (Purn) Aan Suhanan mengatakan, pihaknya dalam menghadapi angkutan Nataru 2026 telah melakukan survei. Dari hasil survei tersebut, penumpang pada Nataru tahun ini diprediksi terdapat peningkatan. Salah satunya di Pelabuhan Penyeberangan Merak. Oleh karena terdapat peningkatan, kata Aan perlu dilakukan sejumlah strategi.

“Pertama, hasil dari survei yang kita lakukan ini ada peningkatan pergerakan masyarakat. Untuk kemudian, animo masyarakat yang akan menggunakan salah satunya penyeberangan di Merak, juga ada peningkatan. Sehigga kita perlu mleakukan beberapa strategi yang akan dilakukan dengan isu pertama tersebut,” ujar Aan usai Rapat Koordinasi dengan sejumlah otoritas di Dermaga Eksekutif, Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Selasa (9/12/2025).

Isu yang juga menjadi fokus utama pemerintah dalam Nataru ini juga terkait dengan cuaca. Dari paparan BMKG, kata Aan, pada bulan Desember dan Januari 2026 merupakan puncak musim hujan. Pada dua bulan itu juga terdapat bibit siklon yang bervariasi. Di mana berpotensi curah hujan tinggi, angin kencang dan gelombang yang mempengaruhi penyeberangan.

Menurutnya, pemerintah dan stakeholder harus menyiapkan rencana kontigensi dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Kondisi cuaca itu, kata Aan, tidak dapat dihindari. Kondisi cuaca ektrem itu juga tidak bisa memaksa operator kapal untuk berlayar. Menurutnya, yang terpenting adalah penyeberangan harus mengutamakan keselamatan.

“Sehingga kita harus siap dengan kontigensi plan yang sudah disiapkan teman-teman dari seliuruh stakholder di penyeberangan Merak ini. Itu tidak bisa kita hindari, tidak bisa memaksakan kita harus menyeberang atau berlayar. Yang utama adalah safety, keselamatan,” tuturnya.

Dalam menghadapi Nataru 2026 sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Kementerian, kata Aan, pemerintah telah menyiapkan empat pelabuhan penyeberangan di Banten. Yakni Pelabuhan Merak, Pelabuhan Ciwandan, Pelabuhan Krakatau Bandar Samudra (KBS) dan Pelabuhan BBJ Bojonegara.

Selain fasilitas pelabuhan, pemerintah juga dalam mengantisipasi kepadatan penumpang akan menerapakan  delaying sistem. Dalam sistem itu, pemerintah juga menyediakan buffer zone.

“Pada intinya kita sudah siap, SOP, pengelolaan arus lalu lintas di penyeberangan, ini sudah kita sinergikan,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT ASDP, Heru Widodo juga mengungkapkan hal yang sama. Cuaca menjadi salah satu yang menjadi atensi pihaknya dalam pelaksanaan angkutan Nataru 2026 ini. Tentu, kata Heru, seluruh pihak harus benar-benar mencermati kondisi tersebut demi keselamatan penumpang.

“Pertama adalah soal cuaca, masih terjadi anomali cuaca yang yang mungkin ekstrem dan berubah-ubah ini menjadi perhatian kita semua, khususnya pengguna jasa, operator kapal dan pelabuhan. Tentu juga kita haru mencermati betul, keselamatan menjadi hal yang diutamakan,” paparnya.

Pihaknya memestikan bahwa kapal yang beroperasi di Pelabuhan Merak sudah dinyatakan laik untuk berlayar. Begitupun fasilitas dan sejumlah langkah strategis juga telah disiapkan pihaknya.

“Kedua, dari sisi pelayanan, kami juga memasikan kapal kami dalam semuanya, kondisi baik dan laik laut. Fasilita pelabuhan kita siapkan dengan baik, buffer zone dan delaying sistem kita siapkan dengan baik,” pungkasnya. (Ronald/Red)