Arif menyatakan, dalam simulasi tersebut rata-rata waktu evakuasi sekitar 20 menit. Itu artinya, manakala terjadi gempa megathrust, masyarakat sudah di evakuasi ke titik evakuasi sebelum terjadi tsunami.
“Apabila dari Dover akan terjadi 80 menit, dengan jalan santai saja 20 menit, itu artinya masih ada waktu karyawan melakukan evakuasi,” paparnya.
Sementara, Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Kebencanaan pada BPBD Kota Cilegon Fathurrohman mengapresiasi kegiatan simulasi yang dilakukan oleh industri-industri yang ada di wilayah Grogol dan Pulomerak. Simulasi yang digelar tersebut merupakan upaya respon awal industri manakala terjadi bencana gempa megathrust dan tsunami.
“Tadi adalah simulasi respon awal ketika ada gempa, dan ketika mendengar informasi ada tsunami. Respon awal adalah salah satu nya kita berjalan dari titik kita berada ke tempat evakuasi,” ujarnya.
Kabid yang disapa Oman ini menyatakan, simulasi yang digelar juga merupakan uji rencana kontigensi (renkon) yang tengah disusun pihaknya. Bilamana rencana kontigensi disetujui oleh BNPB, maka kedepan rencana operasi penanggulangan bencana sudah dapat disiapkan dengan baik.
“Artinya nanti kalau dokumen ini sudah jadi maka otomatis ketika ada kejadian tapi kita tidak harapkan maka dokumen dan renkon ini akan menjadi berubah menjadi rencana operasi yang langsung dikomandani oleh Bapak Dandim Kota Cilegon,” harapnya. (Ronald/Red)

