20.1 C
New York
Kamis, Juni 4, 2026
BerandaPemerintahanWarga Kapling Cilegon Menjerit Tagihan PDAM Membengkak Hingga Rp 2,8 Juta

Warga Kapling Cilegon Menjerit Tagihan PDAM Membengkak Hingga Rp 2,8 Juta

-

CILEGON, SSC – Seorang warga Kota Cilegon, Fahmi mengeluhkan tagihan air dari Perusahaan Umum Daerah Air Minum Cilegon Mandiri (Perumdam-CM) yang dibebankan kepadanya membengkak.

Warga yang mengontrak di Lingkungan Kapling Blok E Kelurahan Ciwaduk, Kecamatan Cilegon ini mendapat tagihan air dengan penghuni kontrakan lainnya naik 4 kali lipat dari biasanya.

Ia menceritakan, tagihan diketahui membengkak saat akan membayar ke ritel pembayaran tagihan air di Cilegon. Beban tagihan air yang biasanya dibayar Rp 800 ribu namun pada bulan Februari dan Maret 2021 naik hingga Rp 2,8 juta.

Sontak dia pun kaget dan tidak menyangkanya. Tagihan yang biasa dibayarnya bersama penghuni bedeng lain antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, kini nilai tagihannya naik tak diduga-duga.

“Jadi pas saya mau bayar air ke salah satu ritel di Cilegon kaget pembayaran air dikenakan biaya sebesar Rp 2,8 juta. Biasanya saya bayar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu saja dengan penghuni bedeng lain. Tapi ini malah Rp 2,8 juta. Hitungannya kalau dengan ini, masing-masing penghuni bebannya Rp 800 ribuan lebih,” ujarnya
kepada awak media, Jumat (23/4/2021).

Tagihan yang naik itu ditundanya untuk dibayar. Ia pun mendatangi kantor Perundam-CM menanyakan perihal kenaikan tersebut. Niat melaporkan tagihan karena mencurigai ada ketidak beresan dengan instalasi air di bedeng yang dikontraknya, alih-alih Perumdam-CM malah menyarankan untuk membayar tagihan dengan mencicil.

Mengetahui tidak menemukan solusi, ia meminta keringanan untuk pembayaran tersebut namun tidak bisa juga dipenuhi.

“Saya langsung ke kantor PDAM untuk menyelesaikan besaran tagihan ini. Dari pihak PDAM menyarankan pembuatan di cicil. Nah saya dan teman-teman di kontrakan hanya bisa sanggup bayar 1 rumah kontrakan Rp 400 ribu per kamar. Jadi kalau 3 kamar Rp 1,6 juta. Bulan April aja total tagihan sebesar Rp 1,8 juta,” katanya.

Dia mencurigai masalah itu timbul karena adanya kerusakan pada meteran air. Karena saat semua penghuni mematikan air, kata dia, jarum pada meteran air tetap berputar. Di mana menurutnya terjadi kebocoran.

“Memang pihak PDAM sudah mengecek juga, dan dibilang tidak ada kebocoran sama sekali. Pernah justru pernah kita semua penghuni mencoba untuk mematikan semua keran air, meteran air malah masih jalan. Jarum airnya di pipa meteran malah berputar kencang sekali,” tuturnya.

Ia berharap agar Perumdam-CM bisa mencarikan solusi. Sebagai masyarakat kecil, tagihan yang dibebankan itu sangat memberatkan beban hidupnya. Apalagi penghuni lain jauh lebih diberatkan. Karena ada yang janda adapula yang bekerja sebagai tukang ronda lingkungan.

“Pandemi ini kita sudah susah, mana harus bayar rumah kontrakan, bayar air, bayar uang sekolah anak. Yang lebih kasihan, kalau yang sebelah rumah kontrakan kanan kiri saya. Mana yang satu janda dan tukang ronda lagi,” ujar Fahmi.

Sementara itu, Direktur Perumdam-CM Taufiqrohhman coba dihubungi mengenai hal itu masih belum bisa dikonfimasi. (Ully/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen
- Advertisment -DEWAN 2