CILEGON, SSC – Selama 13 jam para buruh yang tergabung dalam federasi buruh se-Kota Cilegon tidak mendapatkan hasil kesepakatan apapun atau nihil dalam penetapan UMSK (Upah Minimum Sektoral) 2020 mendatang di Kantor Disnaker Kota Cilegon

Pagi tadi, (kemarin) ratusan buruh se-Kota Cilegon tiba mengepung Kantor Disnaker Cilegon pada pukul 09.00 WIB. Pada pukul 22.30 hasil tuntutan yang diinginkan oleh buruh pun juga tidak ditindaklanjuti oleh depeko maupun perusahan.

Dari hasil rislah perundingan usulan tentang upah minimum sektoral 2020 mendapatkan hasil, Asosiasi sektor besi dan baja (IISA) mempertimbangkan kondisi industri besi dan baja masih sangat sulit cendrung beberapa tahun nengalami kerugian karena persaingan pasar global. Kedua, dalam negosiasi UMSK 2020, sektor logam diwakili oleh Asosiasi Sektor Besi dan Baja terdiri dari PT KSGroup dan industri lainya berbahan logam seperti industri fabrikasi dan kontruksi.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan (FPKEP) Kota Cilegon, Rudi Sahrudin mengatakan, aksi ratusan masa dari beberapa serikat buruh di Kota Cilegon ini dilakukan karena dari hasil rapat dengan dewan pengupahan, perusahan dan buruh belum ada kesepatan besaran yang diiginkan oleh para buruh.

“Hasil masih 0. Kita (buruh) minta besaran 18 persen belum juga disetujui oleh perusahan maupun Depeko. Kita sudah 13 jam di sini (Disnaker) tidak ada satupun hasil kesepakatan,” kata Rudi kepada Selatsunda.com,” Selasa (3/12/2019).

Pada UMSK 2020, kata Rudi, pihaknya mengusulkan besaran kenaikan UMSK perusahaan kelompok I sebesar 18 persen, kelompok II sebesar 14 persen dan kelompok III sebesar 12 persen. Serikat buruh berharap UMSK tersebut dapat dijalankan oleh perusahaan-perusahaan.

“Namun demikian berdasarkan perundingan bersama dan aturan baru, kenaikan UMSK tak menggunakan persentase, melainkan menggunakan nominal yakni Rp370 ribu untuk kelompok IA, kelompok IB sebesar Rp355 ribu dan kelompok II sebesar Rp275 ribu dan kelompok III sebesar Rp197 ribu,” ujar Rudi.

Dikatakanya, kenaikan UMSK 2020 ini dianggap masuk akal. Bahkan, jika dihitung-hitung besaran ini pun karena melihat UMK Cilegon sudah besar, dan faktor lainnya seperti kebutuhan hidup di Kota Cilegon cukup tinggi.

“Cilegon itu unggulan dan itu tidak bisa dihindari. Jangan pukul rata semua dengan kejadian yang terjadi di PT Krakatau Steel. Jangan gara-gara Krakatau Steel semua dipukul rata. Saya yakin, dari Anyer hingga Merak mampu memberikan UMSK sesuai yang kita minta,” tungkasnya.

Sementara itu, Kadisnaker Cilegon, Buckhori dalam rapat hari ini belum ditemukan hasil apapun. Buruh tetap dengan diangka 14 hingga 18 persen.

“Yah kalai mereka (buruh) minta 18 persen masuk akal lah. Itu PU. Kalau perusahan mau bayar. Kami (Depeko) hanya memfasilitasi saja. Sedangkan kalau UMK itu unsurnya dari pemerintahan, perguruan tinggi dan buruh sektoral,” ujarnya.

Ia mengungkapkan berdasrkan Peraturan Mentri (Permen) 15 Tahun 2018 tentang UMSK, tidak lagi menggunakan presentase seperti tahun sebelumnya, namun menggunakan sistem besaran nilai rupiah.

“Peraturan Mentri (Permen) 15 Tahun 2018 Tentang UMSK menyatakan seperti itu,” ujarnya. (Ully)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here