CILEGON, SSC – Sebanyak 6.000 anak di Kota Cilegon putus sekolah atau belum mengenyam pendidikan wajib belajar (wajar) 12 tahun.
Kepala Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah) Kota Cilegon Beatrice Noviana mengatakan, berdasarkan data Dinas Pendidikan (Dindik) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Cilegon, keenam ribu anak belum bisa mengenyam wajar 12 tahun atau putus sekolah hingga kelas X di tingkat SMA.
“Untuk pendidikan anak menengah atas setingkat SMA di Kota Cilegon masih dibawah 70 persen atau masih 6.000 anak belum menerima akses pendidikan hingga 12 tahun,” kata Beatrice dalam sambutanya pada acara Rapat Koordinasi Penguatan Kelembagaan Pokja Pengarustamaan Gender yang Digelar di Aula Bappeda Cilegon, Rabu (17/3/2021).
Meski ribuan anak ditingkat SMA mengalami putus sekolah namun anak yang bersekolah di tingkat SD dan SMP lebih baik atau mencapai 80 persen.
Ia tak menampik jika persoalan pendidikan seperti anak putus sekolah harus menjadi perhatian semua pihak. Dengan harapan, pendidikan lama sekolah di Cilegon bisa tumbuh dengan baik.
“Sejak 2016 hingga 2021 ini, pendidikan lama sekolah di Cilegon kecil bahkan stagnan diangka 0,3 persen dan 0,5 persen dan tidak ada kenaikan apapun. Untuk persoalan pendidikan, sebetulnya kami (Pemkot Cilegon) sudah menganggarkan 20 persen dari APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) sesuai dengan Undang-Undang,” tambahnya.
Menurutnya, faktor yang menyebabkan anak putus sekolah ini karena tak melanjutkan kejar paket A, B dan C. Pihaknya optimis dengan janji politik Walikota dan Wakil Walikota, Helldy Agustian-Sanuji Pentamarta, wajar 12 tahun bisa tercapai.
“Kebanyakan dari mereka ini tidak lagi mengejar paket A, B dan C. Kami optimis dengan adanya janji politik Pak Walikota dan Wakil Walikota Cilegon dengan memberikan beasiswa kuliah ke 5.000 anak ini, akan berdampak juga pada meningkatnya anak-anak di Cilegon untuk bisa mengenyam sekolah hingga 12 tahun serta tidak ada lagi anak-anak di Cilegon yang buta huruf,” pungkasnya. (Ully/Red)

