20.1 C
New York
Kamis, April 30, 2026
BerandaPeristiwaWalikota Cilegon Robinsar Akan Masukan Penanganan Krisis Air Bersih di RPJMD 2025-2030

Walikota Cilegon Robinsar Akan Masukan Penanganan Krisis Air Bersih di RPJMD 2025-2030

-

CILEGON, SSC – Walikota Cilegon, Robinsar berjanji akan memasukan penanganan krisis air bersih dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Cilegon 2025-2030. Hal ini disampaikan Walikota Robinsar usai menghadiri Rapat Paripurna dalam agenda Penetapan dan penyampaian Pokir DPRD Cilegon pada Rapat Paripurna di DPRD, Senin (17/3/2025).

Walikota Robinsar mengatakan, penanganan masalah air bersih merupakan janji kampanyenya. Untuk menangani itu, belum lama, Ia mengaku bertemu dengan PT Indonesia Power (IP).

Robinsar mengungkapkan, beberapa wilayah di Cilegon yang mengalami krisis air bersih yang akan ditangani terutama di Kecamatan Pulomerak.

Sejauh ini di wilayah Cipala sudah tertangani namun daerah lainnya seperti Gunung Batur, Tembulun dan Suralaya masih perlu perhatian serius.

“Jadi memang janji kampanye fokus pada penanganan air bersih. Cilegon tidak terlalu banyak, (hanya) wilayah Merak, Grogol, Suralaya, Cipala, Gunung Batur dan Tembulun. Itu yang agak repot air. Alhamdulillah, Cipala sudah terkoneksi. Gunung Batur dan Tembulu, kalau nggak salah, tahun ini tahun depan, itu akan dikoneksi ke masyarakat, PDAM akan masuk,” ucapnya.

Ia mengaku, telah memetakan beberapa wilayah di Merak yang mengalami krisis air bersih. Seperti di Suralaya, air bersih belum dapat tersalurkan karena ujung pipa berada di wilayah Rawa Arum. Untuk menangai itu, pihaknya telah komunikasi dengan IP agar dapat membantu mengatasinya.

“Yang Suralaya memang pipa agak jauh, kalau terakhir itu, di Rawa Arum sambungan pipanya. Kalau ditarik Rawa Arum ke Suralaya agak repot, dan cost juga tinggi. Kita sedang komunikasi dengan IP meminta supply air tersebut dari IP untuk disalurkan ke masyarakat. Kemarin sudah positif, tanggapan dari IP-nya tinggal bicara lebih lanjut,” terangnya.

Robinsar menyatakan, sejauh ini masalah krisis air bersih baru tertangani di wilayah Cipala dengan sistem reservoir dan pompa air. Kedepan, ia akan meminta OPD dan PDAM untuk turun melakukan perencanaan menangani krisis air bersih di wilayah lain seperti Gunung Batur, Tembulun dan Suralaya. Paling tidak menggunakan metode reservoir sepertio di Cipala yang saat ini telah berjalan.

“Wilayah Tembulun, Gunung Batur itu memang metodenya sama. Nanti OPD dan PDAM akan masuk. Cuman Suralaya itu juga sama, cuman air diambil dari jaringan Suralaya tadi. Persis sama dengan Cipala,” bebernya.

Robinsar menjelaskan, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius pemerintah. Apalagi saat musim kemarau, masyarakat sangat sulit mendapatkan air bersih.

“Kalau musim kering, agak repot, kasihan masyarakat. Saya sempat melihat dulu bawa ngangsu, dari bawa ke atas itu, sekilo. Wilayah langon ketas. Kasihan masyarakatnya, mandi sulit buat keseharian repot juga. Makanya kita harus hadir pemerintah disitu,” tuturnya.

Robinsar mengaku akan menangani secepatnya masalah krisis air bersih. Tahun ini, rencana dia, akan membuat Detail Enginering Design (DED) dan Feasibility Sudy (FS). Agar program penanganan krisis air bersih dapat dilaksanakan tahun depan.

“Kita akan masukan nanti ke RPJMD. Mungkin di 2025 ini, kalau DED dan FS-nya. Paling 2026 bisa eksekusi,” harapnya. (Ronald/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen
- Advertisment -DEWAN 2