20.1 C
New York
Senin, April 20, 2026
Beranda Peristiwa BGN Tutup Sementara SPPG di Cilegon usai 49 Siswa MTs Al Inayah...

BGN Tutup Sementara SPPG di Cilegon usai 49 Siswa MTs Al Inayah Diduga Keracunan MBG

0
67
Staf Khusus Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi, Redy Hendra Gunawan. (Foto Ist)

CILEGON, SSC – Badan Gizi Nasional menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 8 Cibeber di Kota Cilegon, Provinsi Banten.

Staf Khusus Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi, Redy Hendra Gunawan saat dikonfirmasi mengatakan, ada sebanyak 49 siswa MTs Al Inayah yang diduga mengalami keracunan usai mengkonsumsi makan bergizi gratis (MBG) pada Kamis (16/4/2026).

“Memang terjadi kejadian keamanan pangan, terdampaknya 49 orang. Tadi sekarang di cek barusan, sudah pulang semua. Terakhir ada 12 orang di Puskesmas Cibeber, yang lain 37 orang sudah pulang. Tetapi yang masih observasi ada 12 orang,” ujar Redy, Senin (20/4/2026).

Redy mengungkapkan, pihaknya belum dapat mengetahui dugaan penyebab siswa keracunan. BGN masih koordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan pengujian sampel.

“Kita masih ngecek sampelnya, karena kita tidak bisa menentukan faktornya karena apa. Tetapi kalau dari dari laporan SPPG, proses pemasakan dan sebagainya, tidak ada kendala operasional. Dimasaknya dini hari, kemudian yang dikirim ke MTs dan MA Al Inayah, dimasak jam 4 pagi. Jadi biasanya dikirim itu, MTS atau MA sekitar jam 9 an. Untuk dimakan di jam 11 atau jam istirahatnya jam 12,” ucapnya.

“Jadi kita cek, ini faktornya kenapa. Karena yang terdampak di satu sekolah, apakah saat distribusi terdapat kontaminasi ataukah saat misalnya mengangkut dari mobil ke sekolah, itu yang sedang kita cek sampelnya ke BPOM dan Dinkes,” sambungnya.

Redy menuturkan, pengecekan itu biasanya membutuhkan waktu satu minggu. Di mana pengujian itu dilakukan pengecekan sampel dan spesimen.

“Biasanya satu minggu, Dinkes dan BPOM mengecek. Jadi ada spesimen, ada sampel. Jadi SPPG itu selalu simpan menu yang dikeluarkan hari itu. Menu yang dikeluarkan hari itu, kalau tidak salah, mie ayam, ayam cincang kecap, sayur, tahu goreng dan buah naga. Nah biasanya SPPG, setiap dia produksi satu hari, mereka simpan 1 sampel, mereka simpan di kulkas. Kalau terjadi apa-apa, kita cek. Ini yang dicek BPOM,” ungkapnya.

“Kalau spesimen di cek oleh Dinkes, sampel makanan jadinya dicek BPOM nanti dibandingkan spesimennya. Kalau sampelnya aman, kemudian spesimennya ada sesuatu, maka ada kontaminasi di tengah jalan. Kalau sampel tidak aman, ini (spesimen) tidak aman, oh berarti saat pengolahan. Nah itu kita sedang menunggu Dinkes,” urainya.

Dengan adanya kejadian itu, kata Redy, SPPG di tutup sementara atau dihentikan operasionalnya.

“Dapurnya sementara di non aktifkan, kan tidak boleh beroperasi dulu sekarang, SPPG-nya. Kalau non aktif, kepala SPPG-nya juga sementara tidak beroperasional. Tetapi dia koordinasi untuk cek sampel dan sebagainya, mereka tidak operasional SPPG. Sampai nanti hasil lab keluar dari BPOM dan Dinkes,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Cilegon, Lukiyah mengungkapkan pernyataan yang sama. SPPG di Cibeber itu ditutup sementara sejak Jumat, 17 April 2026 atau satu hari setelah kejadian.  

“Dari BGN, untuk sementara dapurnya ditutup dulu sampai batas waktu ditentukan nanti sampai persyaratan yang diinginkan BGN terpenuhi,” ujar Lukiyah.

SPPG itu, kata Lukiyah, dibawah naungan Yayasan Nurani Duafa Indonesia.

“Yayasan Nurani Duafa Indonesia, berlokasi di Taman Cilegon Indah. Pemilik Pak Irfan Ali Hakim,” ungkapnya.

Terkait dengan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) SPPG itu, kata Lukiyah, sedang direkomendasikan. Surat tinggal menunggu diterbitkan oleh Dinkes.

“SLHS sedang direkomendasi, iyach. Tinggal suratnya diterbitkan dari dinkes. Sedang direkmendasikan oleh Dinkes, IKL sudah semua, sudah lolos, IPAL sudah. Tinggal menunggu suratnya,” ujarnya. (Ronald/Red)