:
Foto Ilustrasi (Sumber: Unicef.org)

CILEGON, SSC – Seorang ibu rumah tangga (IRT) asal Kota Cilegon, FH (20) harus berjuang cukup keras agar anaknya terbebas dari stunting. Kepada Selatsunda.com, Ia menceritakan kisah heroiknya berjuang keras agar bisa membesarkan anaknya.

Ia berkisah, saat proses melahirkan anaknya tak ada yang dirasa aneh. Secara fisik, anaknya masih prima dan merasa sehat kala itu. Putrinya lahir normal tanpa ada operasi sesar.

Namun, rasa takutnya mulai muncul ketika berat badan putrinya tak sesuai dengan rata-rata Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) BBLR di Indonesia. Putrinya lahir dengan berat badan 1,5 kilogram masih jauh dari BBLR yakni 2,5 kilogram.

“Pas saya periksa ke Puskesmas, kaget aja pas nimbang berat badanya kurang,” kata dia kepada Selatsunda.com ditemui usai memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke 30 Tahun 2023 di Kantor Walikota Cilegon,” Selasa (31/10/2023).

Baca juga  Pansus Raperda RPJPD Bedah Total Pembangunan Kota Cilegon di 2025-2045

FH yang bekerja sebagai penjual es batu mengaku menghidupi anaknya dengan penghasilan seadanya. Ia hanya bisa menghasilkan uang sebesar Rp 10.000 dan sang suami Rp 50.000 per hari.

“Yah mau gimana lagi mba. Semangat aja agar anak bisa sembuh dari stunting,” ujarnya.

Sementara itu, Ibu lainnya, BM (35) mengaku sejak lahir anaknya memiliki berat badan 1,4 kilogram.

“Susah banget mba. Apalagi sejak lahir gak mau makan sama sekali. Kalau kembaranya berat badanya 1,8 kilo,” ujar dia.

Ia mengaku bersyukur mendapat bantuan makanan dari pemerintah untuk membantu anaknya. Kata dia dengan bantuan itu, anak-anak terkena stunting mendapatkan tambahan asupan makanan.

“Alhamdullilah dapat bantuan makanan,” pungkasnya. (Ully/Red)