SERANG, SSC – Sebanyak 28 orang warga Banten yang tinggal di Provinsi Papua tiba di Kota Serang, Minggu (6/10/2019). Mereka pulang setelah dijemput Tim Kemanusiaan Provinsi Banten pasca peristiwa Papua.
Kepala Dinas Sosial Pemprov Banten Nurhana mengatakan, kepulangan 28 warga Banten ini setelah tim berhasil melakukan pendataan dan penyisiran. Mereka, kata dia, pulang ke kampung halaman atas kemauan sendiri.
“Jadi yang dikembalikan itu, bukan dipaksa untuk kembali. Jadi ini karena keinginan mereka sendiri,” ujarnya di Kantor Dinsos saat menerima warga yang pulang.
Warga yang terdata diantaranya ada yang memilih untuk pulang ke Banten namun ada juga yang masih memilih untuk menetap di Papua karena sudah memiliki aset dan berstatus PNS.
“Ada juga yang tidak kembali ada juga yang kembali. Karena satu, dia disana punya aset. Terus ada dua juga yang PNS,” paparnya.
Keduapuluh delapan warga Banten ini berasal dari sejumlah daerah di Provinsi Papua. Mereka hidup dari beragam profesi dan dominannya penjual keliling.
Salah satu warga Serang, Taufiq yang tinggal di Waena bercerita panjang tengan Peristiwa Papua. Peristiwa pertama awalnya pecah di Kota Jayapura pada tanggal 29 Agustus lalu. Saat itu, ruko-ruko, Kantor Telkomsel dan lainnya dibakar dan dilempari batu. Kendaraan-kendaraan juga dibakar.
Selama sepekan pasca kerusuhan, kata dia, Kota Jayapura lumpuh tanpa aktivitas. Warga yang merantau saat itu ingin pulang tapi tak ada transportasi. Mereka pun memilih tidak keluar rumah karena takut terimbas kerusuhan.
“Jadi dalam 1 minggu itu, pokoknya kalau mau keluar, nggak penting-penting amat, tidak ada yang berani. Malah waktu itu kalau bisa, ada transportasi, semua pengen pulang,” tutur Taufiq yang berjualan remote keliling di Waena.
Ia kemudian kembali bercerita, mengira setelah peristiwa di Jayapura kondusif, peristiwa di Wamena dan Ekspo pecah. Peristiwa itu terjadi pada 23 September. Saat itu, banyak warga langsung mengungsi ke Markas Korem.
Alat komunikasi, cerita dia, saat itu terputus. Dia dengan sesama rekannya yang lain tidak bisa saling menghubungi termasuk dengan salah satu rekannya yang ada di Wamena. Rekannya di Wamena setelah dua hari peristiwa terjadi sempat memintanya memesan tiket namun tidak ada pelayanan pesawat. Beruntung rekannya bisa naik Pesawat Hercules.
“Waktu itu tidak ada pesawat masuk Wamena. Akhirnya dia naik hercules. Jadi waktu itu kalau tidak salah, teman saya itu pulang hari minggu bisa pulang. Dia naik helcules,” beber Taufiq. (Ronald/Red)

