Warga Kota Cilegon, Rian Hidayatullah menunjukan buku yang ditulisnya berkisah tentang dirinya yang putus cinta hingga mengidap penyakit bipolar,, Kamis (21/10/2021). Foto Elfrida Ully/Selatsu8nda.com

CILEGON, SSC – Dua buah buku tentang kisah cinta yang berujung dengan perselingkuhan ditulis oleh Rian Hidayatullah (27). Namun, dibalik cerita buku yang ditulisnya itu menggambarkan kisah percintaannya yang gagal. Hingga membuat warga Jombang Kali, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon ini mengidap penyakit bipolar affective disorder, sebuah penyakit dengan gangguan depresi berkepanjangan.

Kisah ini diceritakan Rian kepada awak media disela kegiatan Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diselenggarakan di UPTD Balai Budaya Kota Cilegon, Kamis (21/10/2021).

Ia bercerita, gejala depresi yang dialami mulai dirasakan saat patah hati diselingkuhi pacarnya pada tahun 2015 lalu. Depresi yang dirasakannya  itu kemudian berkepanjangan. Rian kala itu tidak hanya depresi namun juga mendapat stigma negatif dari lingkungannya.

Ia mengaku sudah berusaha melakukan pengobatan baik pengobatan medis kesehatan maupun spiritual. Namun masih merasa tidak terdapat perubahan.

“Sebelumnya saya memang diobati non medis sama keluarga. Karena orang Banten jadi pengobatannya begitu. Selama 1-2 bulan tidak ada perkembangan akhirnya saya di rujuk ke RSUD Cilegon. Selama pengobatan, sakit saya tak kunjug sembuh karena tidak ada edukasi maupun informasi apapun. Akibat kondisi ini, saya sempat beberapa bulan putus pengobatan sehingga sakit saya kembali kambuh lagi,” ujarnya.

Baca juga  Tembok Penahan Tanah di Cupas Kulon Grogol Ambrol

Dia mengaku coba berusaha untuk melawan penyakitnya dengan mengisi berbagai kegiatan. Namun saat itu, ia masih belum bisa keluar dari depresi terus menerus.

Tidak lama karena merasa tidak sembuh, Rian memilih untuk kabur dari rumahnya. Ia mencari pelarian dengan pergi ke beberapa kota di Pulau Jawa.  Dalam pelariannya, ia mendapat banyak pengalaman yang berharga. Dia bisa belajar menulis dan membuka usaha percetakan kecil-kecilan di Yogyakarta.

Sampai akhirnya di Tahun 2018, ia memutuskan kembali ke Cilegon meski kondisinya belum begitu stabil. Saat itu pula, dia berobat dan didiagnosa psikiater mengidap penyakit bipolar affective disorder.

Rian mengaku tetap bertahan dengan melawan penyakitnya itu. Dia berdamai dengan penyakit yang dideritanya dengan melakukan kegiatan positif baik dengan membangun usaha kerajinan sepatu safety di Cilegon, membuka percetakan di Yogyakarta dan menjalin hubungan dengan komunitas penulis.

Ia mengaku, satu cara untuk keluar dari penyakitnya yakni dengan menuangkan kisahnya dalam sebuah buku. Pada 2018, dia kemudian menulis buku pertamanya berjudul “Sampah, Ketika Kekasih Menjadi Mantan”. Dalam bukunya itu menggambarkan kisah percintaannya yang gagal hingga harus melawan penyakit yang diidapnya. Kata sampah dalam buku itu digambarkannya sebagai mantan kekasihnya yang selingkuh dan orang-orang yang berstigma negatif tentang pengidap bipolar, yang menurutnya perlu diberi edukasi.

Baca juga  Komunitas Difabel di Cilegon Butuh Perda Pelindungan Disabilitas

“Di 2018 ini saya tulis buku pertama saya. Disitu saya menulis semuanya, mantan saya, keluarga saya dan stigma di lapangan. Kalau orang dengan gangguna jiwa itu dibilang kurang iman, kurang bersyukur, tapi ternyata nggak.  Penyakit gangguan mental itu penyakit medis yang harus diobati,” ungkapnya.

Kini di 2021, Rian mengaku sudah mulai stabil meski harus tetap berobat. Di tahun ini, dia mengaku menulis buku keduanya berjudul “Sampah, Sebuah Perjalanan Hidup” yang mengisahkan dirinya perlahan mulai bisa mengendalikan penyakitnya bipolar.

Ia berharap, kepada masyarakat jangan menjauhi penderita penyakit gangguan kejiwaan. Gangguan jiwa bukanlah sebuah kutukan dan aib. Kata dia, tidak semua orang bisa bertahan mengidap bipolar. Maka diharapkan pula mereka yang mengidap bipolar dapat dibantu.

“Tidak semua orang bisa menerima kondisi seperti ini. Mungkin cuman kalian yang terpilih. Kalian bisa melakukan apapun dan bagaimana pun. Seperti bisa buat usaha telor asin, bernyanyi dan membuat buku,” pungkasnya. (Ully/Red)