BPBD Banten menggelar rapat koordinasi persiapan cuaca ektrem bersama stakeholder di Kantor BPBD Banten, Rabu (21/10/2020). Foto Ronald/Selatsunda.com

SERANG, SSC – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mulai memetakan daerah rawan banjir dan longsor di wilayah Banten mengantisipasi curah hujan tinggi dampak dari fenomoena iklim La Nina.

Kepala BPBD Banten, Nana Suryana mengatakan, ada empat kota/kabupaten yang perlu mewaspadai potensi banjir dan longsor. Keempat daerah diantaranya Kabupaten Lebak dan Kota Cilegon yang menjadi daerah banjir dan longsor tahun lalu.

“Untuk peta rawan bencana kita mengacu pada Inaris yang sudah ditetapkan KLB tahun sebelumnya. Diantaranya di Banten itu, potensi longsor dan banjir bandang itu terjadi di Lebak, Pandeglang, Cilegon dan juga Kabupten Serang,” ungkapnya usai mengadakan rapat koordinasi persiapan antisipasi penanganan cuaca ekstrem dengan sejumlah stakeholder di Kantor BPBD Banten, Rabu (20/10/2020).

Baca juga  Guru dan Tenaga Honorer di Kota Serang Terima Tambahan Honor Dari Pemerintah Pusat

Ia menyatakan, potensi kerawanan di empat daerah tersebut bisa terjadi karena dampak iklim La Nina akibat curah hujan tinggi.

“Karena memang curah hujan (saat La Nina) bisa lebih tinggi, 20 hingga 40 kali lipat,” tuturnya.

Selain banjir dan longsor, kata Nana, ada 4 daerah lain juga diantisipasi pihaknya berpotensi banjir. Satu diantaranya bencana banjir kiriman di wilayah Tangerang.

“Seperti Tangerang, itu kan terlintasi sungai Cisadane. Tentu nanti ada kiriman dari Bogor, Jakartaja. Itu bisa trrjadi. Kalau longsor di kota relatif kecil. Karena tidak ada potensinya,” paparnya.

Ia menyatakan, melalui rapat koordinasi ini, seluruh pihak diharapkan bersama-sama dapat meningkatkan antisipasi dan melakukan upaya mitigasi. Sosialisasi ke masyarakat penting dilakukan untuk meminimalisir bencana.

Baca juga  DPRD Cilegon Desak Dinas Perhubungan Selesaikan Masalah PJU Mati

Sementara, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan, Sukasno mengatakan, curah hujan tinggi akibat dampak La Nina diprediksi menjadi potensi yang tinggi terjadinya banjir dan longsor. Diperkirakan potensi bencana pada tahun ini jauh lebih besar dibanding yang pernah terjadi sebelumnya.

“Kalau kita lihat catatan kami, di 2020 awal di Lebak. Catatan kami di banjar irigasi, itu jumlah curah hujan sekitar satu hari (debit) 710 milimeter. Coba bayangkan, itu bisa meng-cover dalam periode kriteria musim hujan. Jadi 1 bulan itu dimanfaatkan dalam 1 hari,” bebernya.

BMKG memprakirakan, La Nina akan berlangsung pada Desember 2020. Fenomena iklim ini dipredikai akan menurun pada Januari 2021. (Ronald/Red)