Kondisi Gedung Eks Matahari Lama di Kota Cilegon makin membahayakan. Tampak lantai dasar gedung sudah terendam air, Jumat (6/8/2021). Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Persoalan aset Pemerintah Kota Cilegon yakni Gedung Eks Matahari Lama yang saat ini kondisi lantai basement terendam air berkisah panjang.

Aset Pemkot Cilegon yang berada di tengah kota tepatnya di Jalan Sultan Ageng Tirtayasa ini pernah mau dibenahi di masa kepemimpinan Walikota sebelumnya, Edi Ariadi pada 2020 lalu. Namun rencana pemeliharaan atas gedung itu kandas lantaran gagal lelang.

Gedung ini di masa kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota saat ini, Helldy Agustian-Sanuji Pentamarta sempat digaungkan untuk dijadikan Mal Pelayanan Publik (MPP). Bahkan sampai-sampai Walikota Helldy untuk mewujudkan hal itu bertandang ke Banyuwangi. Niat itu pupus lantaran pemeliharaan gedung tersebut tidak dianggarkan pada APBD 2021.

Saat ini gedung yang dikenal masyarakat sebagai mal pertama di Cilegon terendam air. Kondisi itu diakui Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Cilegon, M Ridwan sudah membahayakan. Semenjak air merendam lantai basement hingga lantai dasar, kekuatan struktur konstruksi bangunan diragukan.

Baca juga  Lapas Cilegon Butuh Bantuan Pemkot  Pasarkan Hasil Karya Narapidana

“Jauh sebelumnya memang gedung itu digunakan untuk perkantoran. Kemudian dikosongkan. Sekarang ini banjir dan terendam. Kita sendiri meragukan kondisi pondasinya. Mulai dari betonnya, besinya, struktur dibawahnya, keropos tidak, kita ragukan,” ungkap Ridwan dikonfirmasi, Sabtu (7/8/2021).

Kondisi lantai basement dan dasar Gedung Eks Matahari Lama Cilegon terendam air

DPUTR dengan kondisi gedung terendam air sekitar 4 meter di lantai basement dan setengah meter di lantai dasar sempat berusaha melakukan penyedotan dengan alat seadanya. Namun volume air tidak turun. Begitu juga saat pihak BPKAD melakukan hal yang sama. Selama sebulan penyedotan, volume air cuman turun 7 sentimeter.

“Dulu pernah kita kirim 1 mesin. Selama seminggu disedot, nggak kelihatan turunnya. BPKAD juga pernah menyedot selama 1 bulan, turunnya hanya 7 centimeter,” terangnya.

Ridwan mengaku, pihaknya lantaran sudah membahayakan sempat merencanakan renovasi besar-besaran dengan mengajukan paket lelang sejumlah pekerjaan di tahun lalu. Estimasi pagu anggaran rencana paket seluruh pekerjaan tersebut sekitar Rp 12 miliar. Namun kala itu, kata dia, paket yang dilelangkan gagal.

Baca juga  Realisasikan Bunkering, Krakatau International Port Lengkapi Pelayanan Kapal di Selat Sunda

“Itu sudah dipaketkan, tetapi gagal. Rencananya itu pertama, kita merapikan lantai atas, lantai 4 kan bolong. Itu mau dibuatkan atap. Karena air hujan itu kalau turun ke basement. Kemudian kedua, kita sedot airnya. Ketiga kita rencanakan membeli pompa air permanen. Keempat kita perbaiki rolling door dan pengecatan,” paparnya.

Pada tahun ini, kata Ridwan, pekerjaan pemeliharaan gedung tersebut tidak lagi dianggarkan. Ia menyarankan, BPKAD bisa mengajukan perbaikan karena gedung Eks Matahari Lama tercatat sebagai aset BPKAD. Bila perlu terlebih dahulu dilakukan tes uji kelayakan gedung.

Kata Ridwan, meski hanya menyarankan diterima tidaknya pengajuan anggaran tersebut tergantung keputusan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

“Itu kan tercatatnya aset BPKAD, gimana bagian aset saja bisa menganggarkannya. Tetapi semua tergantung TAPD,” pungkasnya. (Ronald/Red)