Kapolda Banten, Irjen Pol Finadar berbicara dengan salah satu tersangka saat pengungkapan 33 kasus perkara obat terlarang saat di Mapolda Banten, Senin (9/11/2020). Foto Ronald/Selatsunda.com

SERANG, SSC –  Peredaran obat-obat terlarang narkotika masih saja marak terjadi di wilayah Provinsi Banten. Bahkan tidak hanya jauh sebelum pandemi Covid-19, hingga saat ini pun di tengah penyeberan virus tersebut masih berdampak pada masyarakat, peredaran obat terlarang masih beredar luas.

Tugas Polda Banten dalam memerangi barang-barang terlarang ini menjadi tugas yang sangat diseriusi dan terus memberantas hingga ke akar-akarnya.

Kapolda Banten, Irjen Pol Fiandar mengatakan, Direktorat Reserse Narkoba sejak Januari hingga Oktober 2020 telah mengungkap 108 kasus dan menetapkan 126 tersangka dengan barang bukti obat terlarang sebanyak 370.430 butir dari berbagai jenis baik tramadol, hextymer dan obat sejenis lainnya.

Lanjut Kapolda, dalam dua bulan terakhir mulai dari September hingga Oktober 2020 disaat masa pandemi Covid-19 masih berlangsung, Ditresnarkoba telah mengungkap 33 kasus dengan 42 tersangka.

Untuk 33 kasus tersebut diantaranya, Polda Banten mengungkap 6 kasus dengan barang bukti 8.098 butir,  olresta Tangerang 7 kasus dengan barang bukti 120 ribu butir, Polres Pandeglang 4 kasus dengan barang bukti 3.088 butir, Polres Cilegon 3 kasus dengan batang bukti 1.855 butir. Sementara Polres Lebak 3 kasus dengan barang bukti 28 ribu butir, Polres Serang Kota 5 kasus dengan barang bukti 1.888 butir dan Polres Serang 6 kasus dengan barang bukti 8.316 butir.

Baca juga  Lahan Kuburan di Cilegon Bisa Tampung 700 Jenazah Pasien COVID-19

Sementara 42 tersangka diantaranya Polda Banten mengungkap 6 tersangka, Polresta Tangerang  11 tersangka, Polres Serang 7 tersangka, Polres Pandeglang 4 tersangka, Polres Cilegon 3 tersangka, Polres Lebak 3 tersangka dan Polres Serang Kota 8 tersangka.

“Totalnya 33 kasus dengan 42 tersangka, barang bukti 171.245 butir dalam dua bulan saja,” ujar Kapolda dalam Press Conference di Mapolda Banten, Senin (9/11/2020).

Para tersangka dalam mendapatkan obat-obatan terlarang tersebut diperoleh dari oknum di Jakarta dan sekitarnya. Obat dibeli dengan jumlah banyak yang di kemas menggunakan plastik yang biasa bukan kemasan aslinya.

Kemudian, narkoba ini dijual dengan jalur tidak resmi dan menjualnya tidak dengan kemasan sesuai ketentuan.

Sementara, modus operandi yang dilakukan oleh tersangka yakni dengan menjual obat terlarang berkedok toko kosmetik atau toko kelontong. Saat menawarkan ke pembeli, tersangka menjual obat-obatan dalam paket eceran. Dalam sasarannya, para tersangka menjual kepada remaja, pengamen dan anak punk.

Baca juga  Warga Cilegon Keluhkan Lampu Penerangan PJU di JLS Banyak Yang Mati

“Dimasa pandemi ini dijadikan alasan sebagai mata pencaharian untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-haru dikarenakan sulitnya mencari lapangan pekerjaan.
Mendapatkan keuntungan dari hasil Penjualan berbaga jenis obat-obatan yang tidak dilengkapi dengan resep dokter,” tuturnya.

Ia menyatakan, kepada para tersangka dijerat dengan Pasal 196, 197, dan atau Pasal 198 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Tersangka diancam hukuman penjara paling singkat 10 tahun, paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp 100 Juta dan paling banyak 1,5 miliar.

Pihaknya menghimbau agar seluruh lapisan masyarakat turut berperan serta memberantas peredaran obat-obatan terlatang tersebut. Bilamana mencurigai ada peredaran di tengah masyarakat agat segera melapotkannya kepada pihak berwajib.

“Pesan kami dalam kasus ini, awasi perkembangan anak dan keluarga kita. Awasi perubahan perilaku yang agak aneh-aneh dan kebiasaan, agar kita bisa mengetahui lebih dini sesuai usianya. Bila mengetahui ada peredaran obat-obat, segera melapor pihak berwajib,” imbaunya. (Ronald/Red)