20.1 C
New York
Rabu, April 22, 2026
BerandaPemerintahanMenteri BUMN Erick Thohir Minta KS Tingkatkan Bantuan Oksigen di Daerah Berpandemi...

Menteri BUMN Erick Thohir Minta KS Tingkatkan Bantuan Oksigen di Daerah Berpandemi Tinggi

-

CILEGON, SSC – Menteri BUMN Erick Thohir melakukan kunjungan kerja ke PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Kota Cilegon, Banten untuk melihat kegiatan penyaluran bantuan oksigen di Pabrik Gas Industri Krakatau Steel, Selasa (13/7/2021).

Erick dalam kunjungannya mengapresiasi perusahaan peleburan baja itu yang telah berkontribusi untuk negeri. Ia pun meminta, agar terus meningkatkan bantuan atas kebutuhan oksigen medis yang meningkat pesat di tengah pandemi. Terutama untuk rumah sakit di daerah-daerah dengan tingkat positively rate COVID-19 tinggi. Di mana yang dilakukan KS sebagai bagian dari Kementerian BUMN untuk mendukung kementerian lain dalam percepatan dan menjamin ketersediaan kebutuhan vital tersebut.

Erick menyatakan, KS sejak pandemi Covid-19 merebak telah memberikan bantuan kepada berbagai rumah sakit, fasilitas kesehatan, maupun instansi pemerintah yang tersebar di Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

“Apa yang dilakukan Krakatau Steel membuktikan bahwa perusahaan BUMN harus melakukan service oriented. Hal ini telah saya tekankan kepada para Direksi BUMN. Di tengah kondisi seperti ini, perubahan harus dilakukan untuk membantu rakyat dengan aksi nyata. Terlebih kebutuhan oksigen medis sangat mendesak di daerah dengan tingkat pandemi tinggi,” ujar Menteri Erick.

Diketahui, KS terhitung sejak 4 Juli lalu telah memberikan bantuan pasokan oksigen hingga 3.854 tabung oksigen atau sebesar 33 ton oksigen. KS memberikan bantuan pengisian oksigen hingga 800-1.000 tabung oksigen per hari sehingga diperkirakan akan mencapai jumlah 250 ton oksigen per bulannya.

“Pekan lalu, BUMN juga memberikan bantuan ISO Tank untuk pengiriman oksigen. Sekarang, Krakatau Steel juga mensuplai pasokan, dan saya minta kontribusinya ditingkatkan. Saya juga mengajak dan meminta dukungan dari BUMN lain saat ini berorientasi pada meningkatkan layanan yang menyangkut pemulihan kesehatan rakyat, baik itu vitamin, obat terapi, dan vaksin dalam menghadapi pandemi. Harapannya, sudah pasti, rakyat merasakan bantuan tersebut dan tertolong,” ungkapnya.

Erick dalam kunjungan tersebut juga meninjau dan sekaligus meresmikan Subholding Sarana Infrastruktur yang merupakan perusahaan hasil integrasi dari beberapa anak perusahaan KS. Perusahaan baru itu bergerak di layanan kawasan industri terintegrasi dengan empat area utama yang terdiri dari kawasan industri, penyediaan energi, penyediaan air industri, dan pelabuhan. Adapun anak perusahaan yang bergabung adalah PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (PT KIEC), PT Krakatau Daya Listrik (PT KDL), PT Krakatau Tirta Industri (PT KTI), dan PT Krakatau Bandar Samudera (PT KBS).

“Saya mendukung pembentukan Subholding Sarana Infrastruktur sebagai bagian transformasi Krakatau Steel untuk meningkatkan nilai dan mengoptimalkan kinerja perusahaan. Subholding ini harus dapat memanfaatkan peluang dari derasnya arus masuk investasi ke Indonesia yang memerlukan dukungan kawasan industri dengan fasilitas terintegrasi dan berstandar internasional,” terang Erick yang juga melihat operasional pabrik Hot Strip Mill 2 KS dengan kapasitas produksi 1,5 juta ton per tahun.

Sementara itu, Direktur Utama KS, Silmy Karim mengatakan, Subholding Sarana Infrastruktur memiliki pondasi yang kuat secara finansial. Penggabungan empat perusahaan tersebut memiliki pendapatan Rp 3,4 triliun dan nilai EBITDA sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2020 dan akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan kawasan industri di Indonesia.

“Subholding Sarana Infrastruktur Krakatau Steel ini diproyeksikan dapat menghasilkan pendapatan hingga Rp 7,8 triliun di lima tahun mendatang. Sementara untuk EBITDA diproyeksikan meningkat mencapai Rp 2,2 triliun di tahun 2025,” paparnya. (Ronald/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen