20.1 C
New York
Jumat, Mei 15, 2026
BerandaPeristiwaMubes V TTKKDH Banten, Kasepuhan Embay Minta Pengurus Baru Jaga Warisan Budaya...

Mubes V TTKKDH Banten, Kasepuhan Embay Minta Pengurus Baru Jaga Warisan Budaya Leluhur

-

SERANG, SSC – Musyawarah Besar (Mubes) Kebudayaan Seni Tari dan Silat Indonesia (Kesti)Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TKKDH) Banten ke V diselenggarakan pada Hari ini, Sabtu (20/2/2021). Mubes menetapkan Wahyu Nurjamil sebagai Ketua Umum Terpilih menggantikan Ketua Sebelumnya, Alm H Maman Rizal.

Dalam kesempatan tersebut, Kasepuhan TTKKDH Banten, KH Embay Mulya Syarif berpesan agar ketua dan pengurus yang baru dapat selalu menjaga seni bela diri pencak silat.

Menurutnya, seni bela diri haruslah dijaga kelestariannya karena merupakan warisan budaya leluhur para pendahulu. Di mana seni bela diri pencak silat kala zaman kemerdekaan menjadi senjata perang menjaga keutuhan bangsa dan negara RI.

“Patut kita jaga warisan ini dengan sebaik-baiknya. Kalau bangsa kita tidak jago berkelahi mustahil kita merdeka,” katanya dalam mubes yang digelar di salah satu hotel di Kota Serang.

Ia pun berharap, generasi muda dengan melihat seni budaya pencak silat saat ini dapat dijaga utuh dan bermartabat. Tidak ada perpecahan bangsa, sebab Indonesia terlahir dari keanekaragaman budaya, etnis, dan agama yang menjadi satu.

“Iya, dapat menjaga keutuhan NKRI, bermartabat, modern dan menjaga keaneka ragaman yang majemuk,” ujarnya.

Sementara, Ketua Terpilih TTKKDH, Wahyu Nurjamil mengatakan, ke depan ia akan menggerakkan anggotanya agar bertrasformasi menjadi organisasi modern, produktif dan inovatif. Dengan tanpa melupakan nilai-nilai kultural yang sudah dijalankan.

“Nilai kultural yang menjadi modal utama kita. Ini yang harus di syiar kan sebagai dakwah seni budaya yang kita miliki,” jelasnya.

Dijelaskannya, salah satu nilai kultural yang biasa dilaksanakan yakni dengan ritual keceren yang dilakukan setiap bulan Mulud. Ritual ini dilakukan dengan meneteskan air kedalam mata. Biasanya keceran dilakukan bersama-sama sambil membaca doa atau ayat-ayat yang biasa disebut tawasul.

“(Keceran) tujuannya untuk membersihkan kotoran dan menjernihkan penglihatan,” sambungnya.

Ia berharap kesenian dan budaya yang dilakukan Kesti TTKKDH dapat didaftarkan sebagai warisan budaya dan menjadi salah satu objek pemajuan kebudayaan di Provinsi Banten.

“Kita ajukan program wisata daerah kita, Banten dan Kota/Kabupaten lainnya,” pungkasnya. (SSC-03/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen
- Advertisment -DEWAN 2